Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Jangan Ikut Tren Uji DNA Sebelum Tahu 5 Risiko Ini
    Insight News

    Jangan Ikut Tren Uji DNA Sebelum Tahu 5 Risiko Ini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa27 September 2024Updated:28 September 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, CNBC Indonesia – Layanan uji DNA untuk memproyeksikan potensi gangguan kesehatan atau untuk mengetahui garis keturunan hingga nenek moyang makin banyak bermunculan. Sebelum ikut tren, warga RI harus tahu risiko yang ada jika menyerahkan DNA ke startup atau klinik kesehatan.

    Tren uji DNA sudah lebih dulu terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat. Berawal dari startup, perusahaan raksasa 23anMe, Veritas Genetics, hingga Ancestry kini sudah menjadi raksasa dengan jutaan konsumen.

    Namun, CNBC International menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan itu kini dalam penyelidikan lembaga federal AS. Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) mengusut kebijakan internal perusahaan dalam pengelolaan data pribadi dan genetik serta kerja sama mereka dengan pihak lain.

    “Kunci soal data genetika adalah, data tersebut unik hanya ada pada Anda. Data itu adalah identitas Anda. Sebelum Anda ingin percaya kepada perusahaan tertentu, Anda harus tahu konsekuensinya,” kata Jennifer King dari Stanford Law School’s Center for Internet and Society.

    Lewat wawancara dengan konsumen, King menyimpulkan bahwa masih banyak pengguna yang tidak paham soal risiko tersebut.

    Berikut adalah 5 risiko terbesar jika Anda menyerahkan DNA ke perusahaan:

    1. Hacking

    Perusahaan penyedia layanan tes DNA adalah salah satu yang sering diberitakan menjadi sasaran hacker. Misalnya, lebih dari 92 juta akun dari perusahaan uji garis keturunan MyHeritage ditemukan di server milik orang lain.

    Bahaya serangan hacker memang ada pada hampir seluruh bisnis yang hadir secara online. Namun, tidak seperti perusahaan lain, perusahaan uji DNA memiliki informasi yang sangat spesifik dan unik soal penggunanya.

    2. DNA digunakan orang lain cari cuan

    Mayoritas konsumen perusahaan layanan uji DNA mengizinkan informasi soal DNA mereka dibagikan ke “mitra riset.” Hampir semua perusahaan uji DNA memiliki kebijakan untuk tidak membagikan data ke pihak ketiga tanpa izin. Namun, faktanya 80 persen konsumen 23andMe memilih untuk memberikan izin.

    Konsumen sepertinya berpikir izin yang mereka berikan adalah bentuk dari tindakan luhur. Jika DNA mereka bisa digunakan untuk membantu menemukan obat untuk penyakit tertentu, mereka ingin turut berperan. Namun, hal ini berarti bahwa perusahaan farmasi bisa membuat obat berdasarkan DNA Anda.

    “Orang-orang berpikir mereka membantu dunia dan masyarakat. Namun, DNA Anda digunakan untuk mengembangkan obat untuk perusahaan farmasi, tanpa ada batasan apa yang bisa mereka lakukan. Bisa saja obat mereka menghasilkan laba besar tetapi tidak benar-benar membantu dunia,” kata King.

    3. Hukum pelindungan data genetika kurang luas

    Di Amerika Serikat, data genetika dilindungi oleh Genetic Information Non-discrimination Act alias GINA. Di Indonesia, aturan soal data genetika diatur oleh Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi.

    UU PDP memang menetapkan aturan yang lebih ketat dari GINA dan berlaku universal karena diadopsi dari regulasi di Eropa. Permasalahannya, sampai saat ini belum ada lembaga yang berwenang memaksakan UU PDP. Tanpa lembaga PDP, sanksi yang tertera di UU tersebut tidak bisa dijatuhkan sehingga rawan pelanggaran.

    4. Data DNA bisa diakses penegak hukum

    Pelajaran dari Amerika Serikat adalah informasi DNA yang tersimpan di layanan uji DNA bisa diminta oleh penegak hukum tanpa sepengetahuan pemiliknya. Risiko ini muncul karena informasi DNA menggambarkan hubungan darah hingga saudara terjauh.

    Artinya, informasi soal diri Anda bisa diperoleh lewat DNA yang dikirim oleh sepupu jauh yang mungkin tidak pernah Anda temui sebelumnya.

    Selain itu, praktik yang berlaku saat ini adalah layanan uji DNA berkomitmen untuk membuat informasi soal DNA tidak bisa dikaitkan dengan pemiliknya saat tersimpan atau dibagikan ke pihak lain. Kenyataan yang terjadi di AS adalah proses itu bisa dengan mudah “diputar-balik.”

    5. Syarat dan ketentuan bisa berubah

    Konsekuensi juga muncul dari perubahan di dalam perusahaan, mulai dari kebijakan hingga model bisnis. Contohnya saat sebuah perusahaan bangkrut atau dicaplok oleh pihak lain. Syarat, ketentuan, hingga kebijakan mereka soal DNA yang disimpan bisa saja dirombak.

    “Tidak ada batas apa yang bisa dilakukan perusahaan-perusahaan ini. Mereka cukup menyatakan di kebijakan pelindungan data pribadi mereka, dan bisa mereka ubah kapan pun,” kata King.

    (dem/dem)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Teknologi Diagnosis Penyakit Bikin Pasien RI Tak Perlu ke LN


    Smart your life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.