Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»RI Belajar Digitalisasi Sampai ke ‘Dapurnya’ Inggris
    Insight News

    RI Belajar Digitalisasi Sampai ke ‘Dapurnya’ Inggris

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa26 September 2024Updated:27 September 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas mengungkapkan, untuk melipatgandakan pencapaian dalam pelayanan publik tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia mengaku, saat ini digitalisasi merupakan salah salah satu kunci untuk mewujudkannya.

    Azwar Anas bercerita, ketika pemerintah bertemu dengan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Ia juga menemui tantangan transformasi digital di tubuh pemerintahan yang serupa.

    “Sejak itu tim kami kemudian diajak ke dapurnya di Inggris. Bagaimana transformasi di Inggris bekerja,” ungkapnya di Hotel Mulia Jakarta, Kamis (26/9/2024).

    Ia mengungkapkan, ternyata di negara Inggris pun ada begitu banyak layanan aplikasi. Sementara untuk menyatukan berbagai aplikasi menjadi satu bukanlah perkara mudah.

    “Ternyata juga tidak mudah, tantangannya juga sama. Di Inggris ketika webservice cukup banyak untuk menjadikan satu webservice, ternyata tantangannya juga besar. Memerlukan waktu yang panjang,” sebutnya.

    Dalam mencapai pelayanan publik yang efektif, kata dia, pemerintah juga belajar dari Inggris dengan meminta pendampingan dari tim Tony Blair Institute.

    “Oleh karena itu di kantor kami ada tim Tony Blair Institute mendampingi kami. Selama proses tahapan ini, tim Dane Korea Selatan di lantai 8 ada di kantor Kementerian Pak Yardi. Supaya apa? Arsitektur yang kita bangun, standar sebagaimana arsitektur internasional yang sering dikerjakan oleh berbagai negara,” jelasnya.

    Ia mengungkapkan, Presiden telah melarang pemerintah untuk membuat aplikasi baru. Khawatir, banyaknya aplikasi akan membuat kebingungan di masyarakat sehingga pelayanan rakyat menjadi tidak efektif.

    “Sekarang arahan Presiden tidak boleh lagi membuat aplikasi baru. Karena ternyata, semakin membuat aplikasi baru, rakyat bukan terlayani, tetapi rakyat justru semakin bingung,” tuturnya.

    Menurutnya, produk inovasi selalu membuat aplikasi baru. Hingga saat ini ada 27 ribu aplikasi yang ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia. “Sekarang tidak boleh lagi ada aplikasi- aplikasi baru,” katanya.

    Ia mengungkapkan, saat ini pemerintah mengambil sikap berbeda dalam mengukur kematangan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Salah satunya ukurannya yaitu, seberapa banyak Pemerintah Daerah (Pemda), Kementerian dan Lembaga mengintegrasikan sistem yang ada.

    “Di Kementerian Perhubungan, kita terus bekerja dari 580-an aplikasi sekarang tinggal 38 aplikasi. Di Kementerian Kesehatan, lebih dari 400 aplikasi sekarang kita dorong menjadi satu aplikasi di dalam satu sehat,” pungkasnya.

    (rob/mij)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Menilik Kesiapan Industri Kesehatan RI Adopsi Teknologi Digital




    Next Article



    Digitalisasi Ubah Perilaku Nasabah Bank, Kok Bisa?



    Hitech for better life Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.