Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Perempuan Jadi Korban, Ini Bukti Nyata AI Bawa Petaka
    Insight News

    Perempuan Jadi Korban, Ini Bukti Nyata AI Bawa Petaka

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa24 September 2024Updated:24 September 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Banyak pihak yang memprediksi Artificial Intelligence (AI) memiliki banyak dampak buruk bagi masyarakat. Ternyata berdasarkan sebuah laporan, teknologi itu juga berdampak pada pekerja perempuan.

    Ini terungkap dalam laporan IMD World Talent Report 2024 AI. Pekerja perempuan, baik di negara maju maupun berkembang, lebih terdampak dari laki-laki.

    Berdasarkan data dari riset Organisasi Ketenagakerjaan Internasional atau ILO, otomatisasi di negara maju berdampak pada 7,9% pekerja perempuan sementara laki-laki hanya 2,9%. Sementara negara berkembang jumlahnya 2,7% pekerja perempuan dan 1,3% pekerja laki-laki.

    Lebih lanjut, ILO menyebutkan 5,5% pekerjaan di negara berpendapatan tinggi akan terganti. Sementara di negara berpendapatan rendah, jumlahnya kurang dariĀ 1% karena akses teknologi yang masih terbatas.

    “Riset Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (ILO/Internasional Labour Organization) PBB menunjukkan AI akan mengubah atau menggantikan 5,5% pekerjaan di negara berpendapatan tinggi dan hanya kurang dari 0,4% di negara berpendapatan rendah. Negara berpendapatan rendah lebih sedikit terdampak AI karena akses teknologi yang terbatas,” tulis laporan IMD, dikutip Selasa (24/9/2024).

    Dalam surveinya, IMD juga mengungkapkan 12% eksekutif mengatakan AI telah menggantikan sebagian pekerjaan. Inilah yang membuat mereka melakukan pengurangan jumlah karyawan.

    Sementara 7% dari mereka mengatakan AI membuat karyawan membatasi kerja pada batas minimum atau memilih pensiun dini. Laporan itu berdasarkan survei pada para eksekutif di 67 negara.

    Terakhir, AI juga membuat peningkatan diskriminasi. Bukan hanya soal pekerja perempuan, namun juga perlu adanya keadilan dan akuntabilitas algoritma AI yang digunakan dalam perekrutan, promosi, hingga evaluasi kinerja karyawan.

    Pemerintah diminta melakukan langkah antisipasi menghadapi dampak ini. Salah satunya menyiapkan pelatihan soal tenaga kerja dan rencana penanggulangan pada tingkat pengangguran yang terdampak AI dan kaum marginal.

    “Sistem pendidikan dan program pelatihan perusahaan juga perlu ditinjau ulang untuk memastikan pekerja memiliki keterampilan yang dibutuhkan di era serba AI saat ini,” jelas laporan tersebut.

    “Pencegahan ini perlu dilakukan agar tak berkembang menjadi gejolak sosial dan berdampak kemampuan suatu negara untuk menarik talenta asing. Sebab, tenaga ahli asing kurang berminat untuk masuk ke negara-negara yang memiliki masalah sosial, sehingga mereka memilih lari ke negara lain. Kurangnya daya tarik ini ujungnya akan berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi,” ungkap laporan IMD.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Menilik Kesiapan Industri Kesehatan RI Adopsi Teknologi Digital




    Next Article



    Jutaan Pekerjaan di RI Bakal Lenyap Gegara AI, Jadwalnya Sudah Ada



    Hitech for better life Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.