Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ada Internet 5G, Indonesia Ternyata Masih Betah Pakai 2G
    Insight News

    Ada Internet 5G, Indonesia Ternyata Masih Betah Pakai 2G

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa12 September 2024Updated:13 September 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Pada 2030, bukan hanya 5G yang tersedia di dunia. Namun beberapa negara dilaporkan masih mengadopsi layanan 2G dan 3G.

    Dalam laporan GSMA berjudul The Mobile Economy Asia Pacific 2024, jumlah penggunaan dua jaringan tersebut memang tidak terlalu banyak. Hanya berkisar di bawah 10%, tak sebanyak 5G yang mencapai sekitar 56% di dunia.

    Indonesia jadi salah satu negara yang masih menggunakan 2G pada 2030. Laporan itu mencatat penggunaannya sebesar 1%.

    Negara lain yang mengadopsi dua jaringan tersebut adalah India. Jaringan 2G sebesar 2% dan 3G kurang dari 1% pada 2030.

    Beberapa negara lain yang masih mengadopsi 2G dan 3G pada 2030 mendatang seperti Bangladesh (2G sebesar 5% dan 3G sebanyak 2%), Pakistan (2G: 7% dan 3G: 1%), dan Fillipina (2G:1% dan 3G:2%).

    Ditanya soal penggunaan 2G dan 3G pada 2030, Head of Pacific GSMA Julian Gorman menjelaskan penggunaannya hanya pada sistem yang tersisa. Meskipun sekarang, standar jaringan yang akan digunakan nanti adalah 4G.

    Jumlah penggunaan dua jaringan itu akan terus menurun seiring berjalannya waktu. “Sebenarnya 2G-3G hanya sistem-sistem yang tersisa. Udah ada cukup lama dipakai,” kata Julian ditemui di Jakarta, Kamis (12/9/2024).

    Dia mendorong untuk pengguna, baik individu dan industri, untuk menggunakan teknologi yang lebih baru. Karena ada dampak yang yang lebih baik yakni memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

    Dengan menggunakan jaringan yang lebih baru seperti 4G, maka 2G dan 3G akan bisa ditutup. Pada akhirnya penggunaannya jauh lebih efisien.

    Foto: Head of Pacific GSMA Julian Gorman. (CNBC Indonesia/Novina Putri Besari)
    Head of Pacific GSMA Julian Gorman. (CNBC Indonesia/Novina Putri Besari)

    “Mengurangi tingkat kompleksitas operasinya. Karena ada bebrapa negara yang mengoperasikan 2G, 3G, 4G, 5G, 4 jaringan berbeda harus dioperasikan pada saat yang sama. Masing-masing ada biayanya, ada kebutuhan tenaganya. Sama sekali tidak efisien, tidak sustainable,” jelasnya.

    “Bila dua ini bisa dihilangkan (2G dan 3G), paling tidak spektrum yang dipakai dua jaringan ini bisa dialokasikan lebih besar lagi ke 4G dan 5G. Operasinya lebih simpel, karena mengoperasikan dua jaringan dibandingkan empat jaringan,” imbuhnya.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Waspada! Bahaya Penipuan Berbasis AI Menggunakan Deepfake




    Next Article



    Internet Mengalir di Indonesia Hampir 100%, Ini Kata Kominfo



    Mind your business Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.