Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Aplikasi Pengganti WhatsApp Makin Ramai, Banyak Kelompok Anti-Muslim
    Insight News

    Aplikasi Pengganti WhatsApp Makin Ramai, Banyak Kelompok Anti-Muslim

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa9 Agustus 2024Updated:10 Agustus 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Telegram yang merupakan pesaing kuat WhatsApp makin populer. Bahkan, dalam sehari pada 29 Juli 2024, pengguna aktif harian Telegram mencapai 3,1 juta.

    Angka itu melonjak drastis dari rata-rata pengguna aktif harian Telegram sebanyak 2,7 juta sejak awal 2024, menurut data Similarweb, dikutip dari Firstpost, Jumat (9/8/2024).

    Sebagai informasi, 29 Juli 2024 merupakan tanggal terjadinya insiden penikaman anak di Southport yang memicu kerusuhan di Inggris.

    Hari setelahnya ketika terjadi penyerangan ke masjid-masjid lokal imbas insiden penikaman dan menyebabkan 50 polisi terluka, pengguna aktif Telegram makin melambung ke angka 3,7 juta.

    Kepolisian mengindikasikan aksi kekerasan terkait dengan kelompok sayap kanan English Defence League yang didirikan aktivis Tommy Robinson.

    Menurut kepolisian, pemerintah, dan analis, kasus di Southport yang menciptakan gelombang kekerasan ke beberapa kota di Inggris turut digembar-gemborkan oleh seruan kebencian yang beredar di platform online. Antara lain di Telegram, TikTok, dan X.

    Organisasi anti-terorisme yang dibekingi PBB, Tech Against Terrorism, mengeluarkan peringatan darurat soal penggunaan Telegram untuk mengorganisir kerusuhan di Inggris.

    Salah satunya dikaitkan dengan peningkatan grup ekstremis anti-Muslim dan anti-imigran di Telegram yang beranggotakan 15.000 orang yang kini telah dihapus. Grup tersebut membagikan daftar target kekerasan, serta informasi terkait.

    “Moderasi minim Telegram untuk menyaring gerakan ekstremis berkontribusi pada maraknya kekerasan di Inggris,” kata Tech Against Terrorism.

    Hal ini memicu tuntutan kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, untuk segera memberlakukan regulasi yang lebih ketat bagi media sosial terkait ujaran kebencian di platform online.

    Sebelumnya, CEO Telegram Pavel Durov beberapa saat lalu mengumbar aplikasinya akan segera mencatat sejarah baru dengan menhimpun 1 miliar pengguna bulanan aktif pada akhir 2024.

    Hal ini akan makin mendekatkan posisi Telegram ke WhatsApp yang sudah memiliki lebih dari 2 miliar pengguna aktif per akhir 2023 lalu.

    Firstpost melaporkan Telegram ramai digunakan sebagai wadah diskusi para ekstremis karena enkripsi ketat yang benar-benar menjaga privasi pengguna.

    “Meskipun Telegram menawarkan platform yang berfokus pada privasi, Telegram juga menawarkan sisi gelap dan sering dimanfaatkan oleh penjahat dunia maya,” kata Jake Moore, penasihat keamanan siber global di ESET, sebuah perusahaan keamanan siber Eropa.

    (fab/fab)

    Saksikan video di bawah ini:

    Wujudkan Ekosistem Smart City, Indonesia Butuh Teknologi Ini!





    Next Article



    Aplikasi Pengganti WhatsApp Makin Diminati, Ternyata Ini Alasannya



    Hitech for better life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.