Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Mengapa Badai Matahari Jadi Ancaman Satelit?
    Insight News

    Mengapa Badai Matahari Jadi Ancaman Satelit?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa10 Februari 2022Updated:11 Februari 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Beberapa waktu mendatang, akan lebih banyak satelit yang rusak atau hancur karena badai Matahari. Seperti puluhan satelit Starlink milik SpaceX yang beberapa waktu lalu hancur karena dihantam badai tersebut.

    Badai Matahari ini bukannya jarang terjadi, para ahli cuaca luar angkasa menjelaskan bahwa fenomena ini diperkirakan akan memburuk selama beberapa tahun ke depan.

    Matahari memulai siklus matahari 11 tahun baru pada bulan Desember 2019 dan sekarang meningkat ke maksimum matahari yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025.

    “Adapun alasan mengapa badai matahari tidak menjadi masalah besar adalah karena selama tiga hingga empat tahun terakhir, kami telah berada pada apa yang kami sebut ‘solar minimum,'” kata ilmuwan peneliti Aerospace Corp Tamitha Skov kepada CNBC Internasional, dikutip Kamis (10/2/2022).

    Khususnya, solar minimum baru-baru ini bertepatan dengan lonjakan besar jumlah satelit di orbit rendah Bumi. Sekitar 4.000 satelit kecil telah diluncurkan dalam empat tahun terakhir, dengan sebagian besar beroperasi di orbit rendah.

    “Banyak dari usaha komersial ini tidak mengerti seberapa signifikan cuaca antariksa dapat mempengaruhi satelit, terutama satelit kecil ini,” terang Skov.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan, badai geomagnetik seperti ini berasal dari angin matahari yang dihasilkan oleh aktivitas matahari. Perisai magnet Bumi membuang energi badai matahari ke atmosfer atas planet dan memanaskannya.

    Sebagian manusia di Bumi malah sangat menikmatinya dan mereka bahkan tidak menyadarinya, karena yang dilihat adalah aurora.

    Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional mengukur badai geomagnetik pada skala keparahan yang meningkat dari G1 hingga G5. Badai yang menghancurkan satelit Starlink pekan lalu diperkirakan adalah G1.

    Erika Palmerio seorang ilmuwan peneliti di Predictive Science menjelaskan keduanya terhitung kecil dan cukup umum terjadi sebanyak 1.700 kali dalam siklus matahari 11 tahun.

    “G5 adalah badai ekstrim dan yang seperti itu jauh lebih langka. Kami menemukan sekitar empat dari mereka per siklus, “kata Palmerio.

    Palmerio menekankan bahwa badai G5 adalah ancaman, seperti jaringan listrik atau operasi pesawat ruang angkasa, tetapi bukan manusia. “Tidak ada risiko bagi manusia di darat dengan badai ini.” tutur Palmerio.

    [Dexpert.co.id]

    (roy/roy)



    High Technology Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.