Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Jokowi Kesal Obat-Alkes RI Mahal, Ini Janji Menperin & Menkes!
    Inspiring You

    Jokowi Kesal Obat-Alkes RI Mahal, Ini Janji Menperin & Menkes!

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman2 Juli 2024Updated:2 Juli 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan hasil rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo mengenai alat kesehatan dan obat-obatan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/7/2024). Ia mengungkapkan dalam dua minggu lagi ada keputusan mengenai perbaikan di industri ini.

    Ia membeberkan dalam hasil rapat diungkapkan Presiden menginginkan perbaikan tata kelola industri obat dan alat kesehatan harus diperbaiki.

    Kemudian, peningkatan investasi di sektor alat kesehatan termasuk obat-obatan harus dipercepat.

    Agus Gumiwang belum mau membeberkan kemudahan atau insentif apa yang akan diberikan pada sektor ini. Ia hanya mengungkapkan keputusan akan diumumkan dalam waktu dua Minggu mendatang.

    “2 Minggu lagi, masing-masing kementerian ditugaskan untuk duduk, membuat konsep yang komprehensif. 2 Minggu lagi bakal dilaporkan,” kata Agus usai rapat.

    Terpisah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan dalam hasil rapat Presiden Jokowi menginginkan harga obat-obatan di Indonesia jadi lebih murah. Terlebih perbedaan harga obat Indonesia lebih mahal tiga kali hingga lima kali lipat dari Malaysia.

    “Pertama harga alat kesehatan dan obat-obatan itu bisa sama dong dengan negara tetangga. Kan di kita harga alat kesehatan dan obat-obatan mahal,” kata Budi Gunadi, usai rapat.

    Presiden juga berpesan, lanjut Budi agar industri obat-obatan dan alat kesehatan dalam negeri mulai dibangun supaya bisa resilien ketika menghadapi pandemi lagi.

    Menurutnya mahalnya obat-obatan dan alat kesehatan ini disebabkan adanya inefisiensi dalam jalur perdagangan. Sehingga, tata kelola perdagangan alat kesehatan dan obat-obatan harus lebih transparan dan terbuka

    “Sehingga tidak ada lonjakan harga yang unnecessary,” kata Budi.

    Adapun untuk membuat harga alat kesehatan dan obat-obatan bisa lebih murah. maka dibutuhkan koordinasi teknis lintas kementerian seperti Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan untuk mendesain ekosistem sebuah industri.

    Ia mencontohkan aturan yang tidak sinkron seperti, untuk pembelian mesin USG mendapatkan bea masuk impor 0%, sedangkan untuk mengimpor komponennya seperti layar, elektronik USG, dan bahan baku malah dikenakan Bea Masuk sekitar 15%.

    “Kan ada inkonsistensi, satu sisi kita ingin dorong industri supaya produksi dalam negeri, tapi supporting insentif sistemnya tidak align,” katanya

    Saksikan video di bawah ini:

    K-Beauty Mulai Ditinggal, Simple Skincare Jadi Tren Baru





    Next Article



    5 Makanan yang Menggerogoti Otak dengan Cepat, Hindari!



    (emy/mij)

    Innovation Inspirasi Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.