Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Terbongkar! Ini Alasan Gejala Covid Omicron Tak Separah Delta
    Insight News

    Terbongkar! Ini Alasan Gejala Covid Omicron Tak Separah Delta

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa31 Januari 2022Updated:6 Februari 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Covid-19 varian omicron menyebar dengan cepat di Indonesia. Kementerian Kesehatan (kemenkes) mencatat hingga Minggu (30/1/2022), total kasus omicron di tanah air sudah mencapai 2.156 kasus.

    Berdasarkan laporan dari berbagai dunia, gejala Covid-19 varian omicron tak separah dari gejala varian Delta. Diketahui gejala yang diamani pasien Delta berupa demam, batuk, sesak nafas, kelelahan nyeri otot, sakit kepala, kehilangan indra penciuman (anosmia)), sakit tenggorokan, muntah, diare hingga hidung tersumbat atau pilek.

    Adapun gejala omicron mirip seperti gejala flu biasa. Lainnya, batuk, fatique, hidung tersumbat atau rirone, demam, mual atau muntah, sesak nafas, diare dan anosmia atau ageusia.

    Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlina Burhan mengungkapkan dari studi HKUMed Hong Kong menyebutkan varian omicron memiliki laju infeksi dan replikasi di bronkus (saluran pernafasan) 70 kali lebih tinggi dari varian Delta dan varian awal.

    “Ini lah kenapa gejala-gejala omicron itu banyaknya berurusan dengan saluran nafas. Apa itu, batuk, nyeri tenggorok, gatal di tenggorok, kemudian hidung tersumbat, pilek atau rinore,” ujarnya dalam Seminar Daring berjudul “Super-immunity and Implication on New Variant of Covid-19”, dikutip Senin (31/1/2022).

    Sementara itu laju infeksi dan replikasi Omicron pada paru dilaporkan 10 kali lebih rendah dari varian awal. Itulah sebabnya jarang ditemui gejala seperti sesak napas dan demam tinggi.

    “Inilah yang bisa menjelaskan kenapa gejala-gejala yang melibatkan radang di paru seperti sesak nafas, demam yang tinggi, itu kurang karena memang replikasi di jaringan paru 10 lebih rendah dibandingkan yang lain,” jelas Erlina.

    Erlina Burhan menambahkan walaupun sebagian besar Omicron ini ringan-ringan saja tetapi bagi para lansia, bagi para yang orang yang belum pernah divaksin, bagi yang punya komorbid dan anak-anak terutama yang belum divaksin akan lebih berat.

    “Kita mendengarkan laporan kematian dari Inggris, AS, Jerman, Belanda terus ada setiap harinya karena Omicron ini sebagian kecil menimbulkan keparahan penyakit. Jadi dikatakan antara 0,03% hingga 1%,” jelasnya.

    Oleh karena itu vaksinasi harus terus digencarkan, masyarakat yang belum divaksin harus segera divaksin penuh. Mereka yang sudah divaksin penuh enam bulan sebelumnya harus segera disuntik booster vaksin.

    “Vaksinasi tetap penting, omicron ini bisa dilumpuhkan oleh antibodi dan kemampuannya lebih tinggi pada pasien yang telah divaksin,” terangnya.

    [Dexpert.co.id]

    (roy/roy)



    Smart your life Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.