Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Duh! Jepang Dilanda Kasus Bakteri Langka Pemakan Daging
    Inspiring You

    Duh! Jepang Dilanda Kasus Bakteri Langka Pemakan Daging

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman26 Juni 2024Updated:26 Juni 2024Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Kasus penyakit akibat bakteri langka perusak jaringan, Streptococcal Toxic Shock Syndrome (STSS) mendadak meningkat drastis di Jepang. Berdasarkan data terbaru, total jumlah kasus dari penyakit ini telah mencapai hampir 1.000 orang.

    STSS merupakan sindrom yang diasosiasikan dengan bakteri pemakan daging.

    Melansir dari CNN, Kementerian Kesehatan Jepang melaporkan bahwa jumlah kasus STSS di Jepang hingga 2 Juni 2024 telah mencapai 977 orang dengan angka kematian hingga 30 persen. Pada Januari hingga Maret lalu, sebanyak 77 orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit ini


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Menurut laporan Institut Nasional Penyakit Menular, jumlah kasus pada 2024 ini lebih tinggi dari rekor sepanjang 2023 lalu, yakni 941 orang dan 97 kasus kematian.

    Profesor penyakit menular di Tokyo Women’s Medical University, Ken Kikuchi mengungkapkan bahwa sebagian besar kematian akibat STSS terjadi dalam waktu 48 jam. Jika melihat tingkat infeksi saat ini, jumlah kasus di Jepang diprediksi bisa mencapai di atas 2.500 kasus dengan tingkat kematian sebesar 30 persen.

    “Setelah seorang pasien menyadari adanya pembengkakan di kaki pada pagi hari, pembengkakan tersebut dapat meluas hingga ke lutut pada siang hari dan mereka dapat meninggal dalam waktu 48 jam,” kata Kikuchi, dikutip dari The Japan Times, Rabu (26/6/2024).

    Hingga saat ini, masih belum diketahui secara pasti penyebab dari peningkatan kasus STSS di Jepang. Namun, sejumlah negara di Eropa juga sempat melaporkan kasus serupa pada beberapa tahun lalu.

    Pada Desember 2022 lalu, sebanyak lima negara Eropa melaporkan adanya peningkatan infeksi streptokokus grup A invasif (iGAS) yang didominasi oleh anak-anak di bawah 10 tahun.

    Pada Maret lalu, pihak berwenang Jepang sempat memperingatkan adanya lonjakan kasus STSS. Berdasarkan penilaian risiko oleh Institut Penyakit Menular Nasional Jepang, jumlah kasus STSS yang disebabkan oleh iGAS telah meningkat sejak Juli 2023, terutama di antara masyarakat berusia di bawah 50 tahun.

    “Kita bisa tingkatkan kekebalan tubuh jika terus-menerus terpapar bakteri. Namun, mekanisme itu tidak ada selama pandemi Covid-19,” jelas Kikuchi.

    “Jadi, kini semakin banyak orang yang rentan terhadap infeksi dan mungkin itu menjadi salah satu alasan meningkatnya jumlah kasus secara tajam,” lanjutnya.

    Sebenarnya, apa itu STSS?

    STSS adalah jenis infeksi bakteri langka yang serius dan dapat berkembang ketika bakteri menyebar ke jaringan dalam dan aliran darah. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), STSS dapat mematikan dengan tiga dari 10 pengidap meninggal dunia.

    “Bahkan dengan pengobatan pun STSS bisa mematikan. Dari 10 orang yang mengidap STSS, sebanyak tiga di antaranya akan meninggal akibat infeksi tersebut,” jelas CDC.

    Sebagian besar kasus STSS disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A (GAS) yang menyebabkan demam dan infeksi tenggorokan pada anak-anak. Dalam beberapa kasus, strep A dapat menjadi invasif ketika bakteri menghasilkan racun yang memungkinkan masuk ke aliran darah sehingga menyebabkan penyakit serius, seperti syok toksik.

    Menurut CDC, strep A juga dapat menyebabkan fasciitis nekrotikans “pemakan daging” yang dapat menyebabkan hilangnya anggota tubuh. Namun, sebagian besar pasien yang tertular penyakit tersebut memiliki faktor kesehatan lain yang dapat menurunkan kemampuan tubuh mereka untuk melawan infeksi, seperti kanker atau diabetes.

    Infeksi radang grup A yang invasif sebagian besar dapat diatasi dengan pengendalian Covid-19, seperti penggunaan masker dan pembatasan sosial. Namun, setelah tindakan tersebut dilonggarkan, banyak negara yang kembali melaporkan peningkatan kasus.

    CDC mengatakan, orang lanjut usia dengan luka terbuka lebih berisiko tinggi tertular STSS, termasuk pasien yang baru saja menjalani operasi.

    “Namun, para ahli tidak mengetahui bagaimana bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh hampir separuh orang yang menderita STSS,” ujar CDC.

    Sebagian besar pasien STSS dilaporkan mengalami gejala awal demam, nyeri otot, dan muntah-muntah. Namun, gejalanya dapat dengan cepat mengancam nyawa dengan nyeri dan bengkak anggota tubuh, tekanan darah rendah, masalah penapasan, dan kegagalan banyak organ saat tubuh mengalami syok.


    Artikel Selanjutnya


    Daftar Negara Lolos 8 Besar Piala Asia 2023, Ada Tim Favoritmu?

    (rns/rns)


    Smart your life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.