Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Marak Penipuan Online Kuras Rekening, AS Sebut Indonesia
    Insight News

    Marak Penipuan Online Kuras Rekening, AS Sebut Indonesia

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa16 Mei 2024Updated:16 Mei 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Kawasan Asia Tenggara menjadi ‘markas’ sindikat penipuan online dalam melancarkan aksinya. Hal ini menjadi perhatian pemerintah Amerika Serikat (AS).

    “Dari Thailand ke Filipina, Vietnam ke Indonesia, kami mendukung kerja sama antar-pemerintah untuk pelatihan dan alat canggih yang dibutuhkan dalam mendeteksi dan menginvestigasi praktik kriminal ini,” kata Brandon Yoder, Deputy Assistant Secretary di Departemen Biro Narkotika dan Penegakan Hukum Internasional AS.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Sasaran penipuan online makin menjamur dengan kerugian global ditaksir mencapai US$ 64 miliar (Rp 1.019 triliun) secara global setiap tahunnya.

    Sementara itu, di tiga negara kawasan Asia Tenggara, yakni Kamboja, Laos, dan Myanmar, kerugian setiap tahunnya diestimasikan sebesar US$ 43,8 miliar (Rp 697 triliun), menurut laporan terbaru dari lembaga nonprofit asal Amerika Serikat (AS), Institute of Peace.

    Modus Penipuan Online

    Ada beragam modus penipuan online yang dilancarkan untuk mengelabui korban. Dalam penelitian terbaru, disebutkan rata-rata modus penipuannya dijuluki ‘pig butchering’.

    Konsepnya menargetkan korban di aplikasi kencan. Penipu mencoba merayu dan mengembangkan hubungan personal yang intim ke korbannya.

    Lalu, penipu akan meyakinkan korban untuk melakukan investasi bodong yang mengalir ke kantor para penjahat siber.

    “Isu yang tadinya berskala regional dengan cepat menjadi isu global,” kata Country Director USIP, Jason Tower, dikutip dari The Record, Kamis (16/5/2024).

    “Modusnya berkembang ke banyak negara. Ada aliansi ke Timur Tengah hingga Afrika. Pelaku kriminalnya adalah oknum yang sama dan mengekspansi operasinya,” kata dia.

    Banyak Warga China Disalurkan ke Myanmar

    Peneliti mencatat dalam beberapa bulan terakhir terjadi peningkatan penipuan online yang menyasar korban secara spesifik di luar warga China dan tidak berbahasa Mandarin.

    Bisa jadi hal ini merupakan respons atas meningkatnya pengawasan pemerintah China terhadap industri penipuan online.

    Pemerintah China murka terhadap perkembangan industri penipu online, sebab banyak warga negaranya yang diperdagangkan secara ilegal ke Myanmar.

    Di kawasan Asia Tenggara, organisasi penipu online telah memperdagangkan ratusan ribu orang secara ilegal dan menempatkan mereka ke sebuah kompleks penipu yang dijaga ketat.

    Di sana, mereka dipaksa untuk menjalankan operasi penipuan online. Jika tak mau, mereka akan mendapat siksaan.

    “Karena mereka sangat bergantung pada kerja paksa, fasilitas ini sering kali memiliki ciri khas berkedok lembaga pemasyarakatan, dengan tembok tinggi dan jendela berjeruji, televisi sirkuit tertutup, penjaga bersenjata, dan ruang penyiksaan,” tulis peneliti.

    Telegram Jadi Sarang Penipu

    Dinamika kompleks penipu untuk para penjahat online ini berbeda-beda di setiap negara. Namun, peneliti mencatat tingkat korupsi politik di masing-masing negara menyebabkan organisasi kriminal online ini makin cepat menjamur.

    Di Kamboja, senator kawakan dari partai penguasa, Ly Yong Phat, memiliki kompleks kasino dan hotel yang terafiliasi dengan industri penipuan online berskala besar.

    Sementara itu di Myanmar, komite mengizinkan milisi yang bersekutu dengan pemerintah di sepanjang perbatasannya dengan China dan Thailand untuk melakukan operasi kriminal besar-besaran.

    “Kompleks tersebut seringkali didirikan melalui kemitraan dengan elit lokal yang berkuasa, terkadang di pusat kota di negara dengan tata kelola yang lemah atau sangat korup, terkadang di zona khusus resmi atau wilayah perbatasan yang tidak diatur dengan baik. Mereka memanfaatkan wilayah yang penegakan hukum dan perpajakannya sengaja dibatasi, sehingga menciptakan impunitas bagi para pelanggar hukum,” tulis peneliti.

    Pertumbuhan sindikat penipu online ini telah menjadi perhatian internasional. Peneliti merekomendasikan negara-negara dunia bersatu untuk memberlakukan sanksi berupa pelarangan perjalanan untuk sindikat penipu online yang berada di negara mereka.

    Selain itu, diminta ada hukuman bagi media sosial seperti Telegram yang memfasilitasi praktik pencucian uang dari hasil penipuan online.




    Techno for life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.