Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Starlink Masuk RI, Menkominfo Beberkan Peran Tony Blair
    Insight News

    Starlink Masuk RI, Menkominfo Beberkan Peran Tony Blair

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa19 April 2024Updated:20 April 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair menyambangi Indonesia sejak Kamis kemarin (19/4/2024). Dalam lawatannya itu, dia berkunjung ke berbagai tempat termasuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo, Menteri Pertahanan yang juga Presiden terpilih 2024-2029 Prabowo Subianto, dan ke Kementerian Kominfo.

    Menteri Kominfo Budi Arie menjelaskan Tony Blair membahas tiga isu. Mulai dari data center, konektivitas, dan digital ID.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Tadi kita berjumpa dengan Tony Blair. Setelah Tony Blair ketemu Pak Presiden, ketemu Pak Prabowo, juga dan menemui kami. Tony Blair Institute ini membantu kami, mendukung kami untuk tiga isu. Yang pertama soal data center, kedua soal Starlink dan konektivitas, dan yang ketiga soal digital ID,” kata Budi Arie ditemui usai pertemuan di kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Jumat (19/4/2024).

    Budi menjelaskan identitas digital jadi hal yang penting dan perlu diperhatikan. Sebab, ini memegang peranan penting untuk digitalisasi sebuah negara.

    Sementara itu terkait Starlink, pihaknya juga menyampaikan kekhawatiran terkait kedaulatan data dan keamanan. Budi menegaskan Indonesia punya hak untuk mengatur kedaulatannya sendiri. Tony Blair Institute akan membuat studi terkait ketiga hal itu. 

    “Bukan cuman Starlink sebenarnya. Tapi lebih pada konektivitas. Starlink hanya salah satu contoh konektivitas yang tadi kita diskusikan secara teknologi dia proven apa engga untuk mengatasi problem konektivitas di daerah yang tertinggal, terdepan, terluar (3T),” jelas Wakil Menteri Kominfo, Nezar Patria dalam kesempatan yang sama.

    Dalam pertemuan itu, Blair juga menyampaikan kekhawatiran soal generative AI. Budi menjelaskan pihaknya juga meminta framework regulasi terkait teknologi tersebut yang bisa diterapkan di Indonesia.

    Sejauh ini belum ada aturan terkait AI. Indonesia baru menerbitkan Surat Edaran untuk etika pengguna AI di dalam negeri.

    “Kami tahu bahwa ini ada tiga komponen penting. Pertama yang safety dia mesti aman, yang kedua Ini mesti etika, dan yang ketiga ini harus trustworthy, saling percaya,” ungkapnya.

    “Kami juga minta support untuk bagaimana framework regulasi ini yang bisa diberlakukan di Indonesia sesuai dengan kebutuhan perkembangan AI di masa depan,” imbuh Budi Arie.



    High Technology Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.