Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ungkap Soal Kiamat Bumi, Bill Gates Bawa-Bawa Nama Indonesia
    Insight News

    Ungkap Soal Kiamat Bumi, Bill Gates Bawa-Bawa Nama Indonesia

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa6 April 2024Updated:6 April 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Pendiri Microsoft, Bill Gates menyinggung Indonesia terkait perubahan iklim yang disebabkan oleh gas rumah kaca. Hal ini disampaikan melaluiĀ blog pribadinya.

    Menurut Gates, setiap tahunnya aktivitas di Bumi menghasilkan 51 miliar ton gas rumah kaca yang 7 persen di antaranya berasal dari produksi lemak dan minyak dari tumbuhan serta hewan.

    “Untuk memerangi perubahan iklim, kita harus mengubah angka tersebut ke nol,” tegas Gates, dikutip Sabtu (6/4/2024).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam tulisannya, Gates menyoroti minyak sawit yang disebut menciptakan dampak besar terhadap lingkungan. Ia mengatakan, minyak sawit adalah lemak nabati yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia, baik untuk dikonsumsi atau sebagai bahan bakar.

    “Saat ini, minyak sawit adalah lemak nabati yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Sebagian ditemukan pada makanan sehari-hari, seperti kue, mie instan, krim kopi, makanan beku, makeup, sabun badan, odol, deterjen, deodoran, makanan kucing, hingga formula bayi,” jelas Gates.

    “Bahkan, minyak sawit juga digunakan untuk biofuel dan mesin diesel,” imbuhnya.

    Gates menegaskan, masalah minyak sawit bukan soal penggunaannya, tetapi bagaimana proses menghasilkannya. Mayoritas jenis sawit asli jenis Afrika Barat dan Tengah tidak tumbuh di banyak wilayah. Pohon itu hanya tumbuh subur di tempat-tempat yang dilewati garis khatulistiwa.

    “Hal ini menyebabkan penggundulan hutan di area-area khatulistiwa untuk mengonversinya menjadi lahan sawit,” kata Gates.

    Proses ini berdampak buruk bagi keragaman alam dan menyebabkan pukulan telak bagi perubahan iklim. Pembakaran hutan menciptakan emisi yang banyak di atmosfer dan mengakibatkan peningkatan suhu.

    “Pada 2018, kehancuran yang terjadi di Malaysia dan Indonesia saja sudah cukup parah hingga menyumbang 1,4 perseb emisi global. Angka itu lebih besar dari seluruh negara bagian California dan hampir sama besarnya dengan industri penerbangan di seluruh dunia,” jelas Gates.

    Sayangnya, Gates mengakui bahwa peran minyak sawit sulit tergantikan. Sebab, komoditas sawit murah, tidak berbau, dan melimpah.

    “Minyak sawit juga satu-satunya minyak nabati dengan keseimbangan lemak jenuh dan tak jenuh yang hampir sama, itulah sebabnya minyak ini sangat serbaguna,” papar Gates.

    “Jika lemak hewan adalah bahan utama dalam beberapa makanan, maka minyak sawit adalah pemain tim yang dapat bekerja untuk membuat hampir semua makanan dan barang-barang non-makanan menjadi lebih baik,” lanjutnya.

    Terkait sejumlah alasan tersebut, Gates menyebutkan bahwa sudah ada perusahaan-perusahaan yang mencoba mengatasinya, salah satunya C16 Biosciences yang berupaya membuat alternatif minyak sawit.

    Sejak 2017, C16 mengembangkan produk dari mikroba ragi liar menggunakan proses fermentasi yang tidak menghasilkan emisi sama sekali.

    Meskipun secara kimiawi berbeda dari minyak sawit konvensional, minyak C16 mengandung asam lemak yang sama sehingga dapat digunakan untuk aplikasi serupa.

    “Minyak ini sama alaminya dengan minyak sawit, hanya saja tumbuh pada jamur, bukan pada pohon. Sama dengan Savor, proses C16 sepenuhnya bebas dari pertanian. ‘Pertanian’-nya adalah sebuah laboratorium di tengah kota Manhattan,” kata Gates.

    Selain lemak nabati, Gates menyebut bahwa faktor lain yang merusak lingkungan adalah lemak hewan. Namun, ia sadar bahwa rencana untuk menghilangkan konsumsi lemak hewan bagi manusia tidak realistis. Sebab, manusia sudah tergantung dengan lemak hewan dengan alasan yang logis.

    Lemak hewan menyimpan nutrisi dan kalori yang dibutuhkan oleh manusia. Namun, ada cara yang bisa dilakukan untuk mengambil lemak tanpa memproduksi emisi, menyiksa hewan, dan menghasilkan zat kimia berbahaya.

    Gates menyebutkan, startup bernama ‘Savor’ yang ia turut menjadi salah satu investornya adalah solusi atas hal ini.

    Savor menciptakan lemak dari sebuah proses yang melibatkan karbondioksida dari udara dan hidrogen dari air. Senyawa tersebut lalu dipanaskan dan dioksidasi sehingga terjadi pemisahan komponen asam yang menciptakan formulasi lemak.

    Gates mengklaim lemak yang dihasilkan memiliki molekul serupa yang ditemukan dari susu, keju, sapi, dan minyak nabati.




    High Technology Innovation
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.