Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Sembako Tanda Kiamat Makin Dekat, Ini Penelitiannya
    Insight News

    Sembako Tanda Kiamat Makin Dekat, Ini Penelitiannya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa25 Maret 2024Updated:25 Maret 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Perubahan iklim, terutama “kiamat” pemanasan global, diperkirakan mengerek harga pangan termasuk sembako sebesar 3,2 persen setiap tahun. Makin parah dampak perubahan iklim, inflasi bahan makanan diprediksi naik makin pesat dan mengancam sebagian penduduk Bumi harus hidup kelaparan.

    Sebuah penelitian oleh ahli Jerman berjudul “Global Warming and Heat Extremes to Enhance Inflationary Pressures” menunjukkan bahwa pemanasan global menyebabkan harga makanan naik antara 0,9 persen hingga 3,2 persen per tahun mulai 2035.

    Pemanasan global berdampak lebih kecil terhadap inflasi secara keseluruhan, yaitu 0,3 persen hingga 1,2 persen per tahun pada 203. Artinya, porsi pendapatan yang dihabiskan oleh penduduk Bumi untuk membeli makanan bakal menggelembung.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Efek “kiamat” pemanasan global ini akan dirasakan di seluruh dunia, baik di negara pendapatan tinggi maupun negara miskin. Namun, negara di bagian selatan Bumi bakal terdampak paling parah.

    Riset oleh Jessica Boxall dan Michael Head di Ghana yang dipaparkan di The Conversation menunjukkan dampak dari inflasi harga pangan di dunia nyata.

    Panel Antar-Pemerintah soal Perubahan Iklim menyatakan Afrika bagian barat adalah “hotspot” perubahan iklim dunia. Di wilayah tersebut, suhu naik dengan ekstrem dan curah hujan berkurang drastis. Parahnya, setengah dari populasi Ghana bergantung kepada bisnis industri pertanian berbasis hujan.

    Lewat survei terhadap sekitar 400 orang di Mion di utara Ghana, Boxall dan Head menemukan bahwa tiap penduduk Ghana yang diwawancarai mengaku pernah mengalami permasalahan ketahanan pangan dalam 12 bulan terakhir. Sekitar 99 persen dari responden menyatakan permasalahan yang mereka hadapi disebabkan oleh perubahan iklim.

    Mion tidak dilanda kelaparan mendadak. Situasi di wilayah tersebut disebut sebagai fenomena normal akibat perubahan iklim.

    Boxall dan Head menyatakan inflasi bahan pangan karena perubahan iklim terjadi karena dua hal.

    Pertama, perubahan iklim kini sudah menyebabkan makanan makin sulit diproduksi. Contohnya, kenaikan suhu Bumi membuat musim panen dan tanam bergeser. Pemanasan global menyebabkan hama dan penyakit makin cepat menyebar sehingga cadangan pangan dan persediaan ternak menyusut. 

    Kombinasi faktor-faktor tersebut mendorong harga pangan makin melambung dan memangkas daya beli penduduk dunia.

    Perubahan iklim, yang mendorong harga pangan makin mahal, sudah berdampak terhadap ketahanan pangan dunia.

    Kedua, permasalahan inflasi membuat rumah tangga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Penduduk dunia harus berkompromi membeli pangan berkualitas lebih rendah atau berhenti mengonsumsi makanan tradisional mereka.

    Menurut Boxall dan Head, pergeseran ini membuat manusia lebih rentan terhadap penyakit dan permasalahan kesehatan. Malanutrisi padahal adalah penyebab utama defisiensi daya tahan tubuh global.



    Smart your life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.