Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ribuan Orang Tuntut Google Blokir Konten, Ini Biang Keroknya
    Insight News

    Ribuan Orang Tuntut Google Blokir Konten, Ini Biang Keroknya

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa13 Maret 2024Updated:14 Maret 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Jumlah video porno buatan deepfake terus bertambah sejak tahun 2017. Ribuan wanita yang menjadi korban, termasuk para streamer Twitch, pemain game, dan pembuat konten lainnya, mengadu ke Google soal situs web yang meng-hosting video tersebut.

    Mereka menuntut Google untuk menghapus video-video porno deepfake dari hasil pencarian di mesin pencariannya.

    Analis dari situs WIRED melakukan analisis terhadap klaim hak cipta terkait situs web yang meng-hosting video porno deepfake. Hasilnya menunjukkan ada ribuan permintaan penghapusan yang telah dibuat, dan frekuensi pengaduan pun meningkat.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Lebih dari 13.000 keluhan hak cipta-mencakup hampir 30.000 URL-telah diajukan ke Google terkait konten di selusin situs web deepfake paling populer,” tulis laporan tersebut, dikutip CNBC Indonesia pada Rabu (13/3/2024).

    Keluhan para korban dibuat berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta Media Digital (DMCA), yang telah mengakibatkan ribuan video non-konsensual dihapus dari web.

    Dua dari situs video deepfake paling populer telah menerima lebih dari 6.000 dan 4.000 protes, berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Google dan database Lumen Universitas Harvard. Dari semua platform deepfake yang dianalisis, sekitar 82 persen keluhan mengakibatkan URL dihapus dari Google.

    WIRED tidak menyebutkan nama situs web tertentu untuk membatasi paparan yang mereka terima. Namun, para pengacara dan perusahaan yang memerangi deepfake secara online, termasuk yang mengajukan keluhan DMCA secara sistematis, mengatakan bahwa jumlah keluhan hak cipta dan tingginya persentase penghapusan adalah tanda bahwa Google harus mengambil tindakan lebih banyak terhadap situs web tertentu. Hal ini termasuk menghapusnya dari hasil pencarian sepenuhnya.

    “Jika satu-satunya tujuan situs web ini adalah untuk menyalahgunakan dan memanipulasi pribadi seseorang, atau merampas otonomi seseorang, atau menjadi ajang pornografi balas dendam, maka situs tersebut tidak seharusnya berada di sana,” kata Dan Purcell, pendiri dan CEO Ceartas, sebuah perusahaan yang membantu pembuat konten menghapus kontennya jika digunakan tanpa izin.

    Untuk situs video deepfake terbesar saja, Google telah menerima permintaan penghapusan 12.600 URL, 88 persen di antaranya telah offline.

    Purcell mengatakan, mengingat banyaknya konten deepfake yang menyinggung perusahaan teknologi tersebut harus memeriksa mengapa situs tersebut masih ada dalam hasil pencarian.

    “Jika Anda menghapus 12.000 tautan karena pelanggaran, mengapa tautan tersebut tidak dihapus sepenuhnya?” katanya.

    Dia menambahkan bahwa mesin pencarian seperti Google tak bolej “dirayapi” situs-situs tersebut karena bukan untuk kepentingan umum.



    Hitech for better life Innovation
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.