Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ngerinya Tornado Rancaekek Terlihat dari Satelit, Ini Penjelasan BRIN
    Insight News

    Ngerinya Tornado Rancaekek Terlihat dari Satelit, Ini Penjelasan BRIN

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa23 Februari 2024Updated:24 Februari 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Fenomena angin kencang yang menghantam area Rancaekek, Jawa Barat, pada Rabu (21/2) lalu tertangkap satelit. Ini adalah kali pertama terjadi di Indonesia, menurut penuturan Erma Yulihastin, Pakar Klimatologi dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Melalui akun X personalnya, Erma membagikan tangkapan satelit yang menunjukkan besarnya skala angin kencang yang menerjang wilayah Rancaekek. Untuk itu, Erma menjelaskan fenomena tersebut sebagai puting beliung atau small tornado.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Untuk pertama kalinya, tornado kecil di Indonesia bisa tertangkap satelit. Ini mengonfirmasi bahwa peristiwa ekstrem ini terjadi dalam skala meso. Untuk membatasi angin maksimal, perlu dilakukan investigasi lebih lanjut,” kata dia, dikutip Jumat (23/2/2024).

    Erma menjelaskan bahwa small tornado berada pada skala mikro 0-2 km. Sementara itu, tornado ada pada skala meso, lebih dari 2 km hingga 2.000 km.

    Menurut dia, sangat sulit memprediksi puting beliung karena skalanya mikro. Satelit juga akan sulit mendeteksi fenomena tersebut.

    “Namun jika skalanya meso (tornado), maka fenomena tersebut dapat terdeteksi dari satelit. Untuk mengkonfirmasi kecepatan angin maksimum kasus Rancaekek harus diletakkan alat ukur di area terdekatnya. Apakah ada AWS di Rancaekek yg bisa menunjukkan data persis kecepatannya?,” ia menuliskan.

    Lebih lanjut, Erma mengatakan pada tahun 2009 periset di LAPAN melakukan kajian puting beliung dan mempublikasikan artikel ilmiah populer berjudul ‘Puting Beliung, Small Tornado yang Sulit Diprediksi’.

    “Kecuali jika skala mikro telah berubah menjadi meso, maka fenomena tersebut lebih mudah diprediksi,” ujarnya.

    “Dari skala dampak kerusakan, kasus Rancaekek lebih luas dan lebih parah dibandingkan dengan Cimenyan (28 Maret 2021) yg sudah kamu kaji sebelumnya. Oleh karena itu, kami akan rekonstruksi, karena utk pertama kalinya, fenomena small tornado dapat dideteksi dari satelit,” ia menuturkan.


    Smart your life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.