Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Alasan Patah Hati Terasa Sangat Sakit Menurut Sains
    Insight News

    Alasan Patah Hati Terasa Sangat Sakit Menurut Sains

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa16 Februari 2024Updated:16 Februari 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Punya hubungan asmara dengan orang yang kita cinta memang indah. Tapi jika hubungan itu tidak berjalan sesuai keinginan rasanya sangat sakit, apalagi jika sampai harus mengakhirinya.

    Rasa sedih, marah, cemas, hingga sesak di dada yang melanda saat patah hati, ternyata dapat dijelaskan dari kacamata sains.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Putus dari sebuah hubungan disebut dapat memicu gelombang emosi negatif yang juga dapat terasa menyakitkan secara fisik.

    Emosi negatif ini dipengaruhi oleh hormon, dengan peningkatan hormon stres kortisol, adrenalin dan noradrenalin, serta penurunan hormon bahagia serotonin dan oksitosin dalam tubuh.

    “Hormon patah hati” ini juga dapat menyebabkan gejala fisik yang membuat orang merasakan sakit.

    Ada alasan fisiologis mengapa patah hati bisa menjadi pengalaman yang menyakitkan, kata Dr. Deborah Lee, penulis medis untuk Dr Fox Online Pharmacy di Inggris, dan gejalanya tidak hanya muncul di pikiran.

    “Saat Anda jatuh cinta, terjadi pencurahan hormon secara alami. Ini termasuk hormon ‘pelukan’ oksitosin dan hormon dopamin ‘merasa nyaman’,” katanya, dikutip dari Live Science, Jumat (16/2/2024).

    Namun saat putus cinta, kadar oksitosin dan dopamin turun, sementara pada saat yang sama terjadi peningkatan kadar salah satu hormon yang bertanggung jawab atas stres, yakni kortisol.

    Peningkatan kadar kortisol ini dapat menyebabkan kondisi seperti tekanan darah tinggi, penambahan berat badan, jerawat, dan peningkatan kecemasan.

    Menurut sebuah studi tahun 2011 di jurnal Biological Sciences, penolakan sosial seperti putus dengan pasangan, juga mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan rasa sakit fisik.

    Mereka yang baru saja “dicampakkan” diperlihatkan foto mantan pasangannya. Pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) menemukan bahwa area otak yang biasanya berhubungan dengan cedera fisik, termasuk korteks somatosensori sekunder dan insula posterior dorsal diaktifkan.

    “Efek neurobiologis dari patah hati bisa mencapai tingkat yang sangat tinggi sehingga disamakan dengan rasa sakit fisik yang dibuktikan dengan gejala fisik yang dilaporkan sendiri, seperti nyeri dada dan serangan panik, dan deskripsi perasaan menderita seperti perasaan terbentur atau hancur,” kata Eric Ryden, seorang dokter psikologi klinis dan terapis di klinik Couples Therapy di Inggris.

    “Patah hati tampaknya melibatkan beberapa mekanisme saraf yang sama seperti rasa sakit fisik.” jelasnya.


    Hitech for better life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.