Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Antibodi Covid Bertahan 10 Bulan Usai Terinfeksi
    Insight News

    Antibodi Covid Bertahan 10 Bulan Usai Terinfeksi

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa1 November 2021Updated:1 November 2021Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Sebuah riset yang dipublikasikan di Nature Microbiology menunjukkan antibodi Covid-19 bertahan selama 10 bulan setelah seseorang terinfeksi dan belum mendapatkan vaksin.

    Penelitian ini dilakukan pada 38 pasien dan petugas kesehatan di Rumah Sakit St Thomas. Dalam penelitian itu terungkap kebanyakan orang 18 orang dari 19 pasien mempertahankan tingkat antibodi yang terdeteksi 10 bulan setelah mereka terinfeksi.

    Antibodi membantu melawan Covid-19 dengan mengikat virus SARS-CoV-2, mencegah virus menginfeksi sel. Antibodi mengikat protein lonjakan pada virus SARS-CoV-2, dan vaksin meniru protein ini untuk menciptakan respons imun terhadap SARS-CoV-2.

    Para peneliti, yang dipimpin oleh Dr Katie Doores dari School of Immunology & Microbial Sciences, juga menguji bagaimana antibodi yang diciptakan untuk melawan varian spesifik SARS-CoV-2 akan merespon varian lain. Mereka melihat varian asli SARS-CoV-2, serta varian alfa, beta, dan delta.

    Antibodi dari varian SARS-CoV-2 spesifik mampu menghasilkan respons yang kuat terhadap infeksi dari varian mereka sendiri, namun hasil menunjukkan antibodi itu kurang efektif ketika melawan varian yang berbeda.

    Mutasi pada varian baru SARS-CoV-2 (alpha, beta, delta) telah menimbulkan kekhawatiran tentang apakah vaksin yang dikembangkan untuk menargetkan varian SARS-CoV-2 asli akan efektif terhadap varian baru, dan apakah vaksin baru harus dirancang terhadap varian ini.

    “Penelitian ini memberikan wawasan unik tentang respons antibodi penetral silang yang disebabkan oleh varian SARS-CoV-2 yang berbeda,” kata Dr Liane Dupont, seperti dikutip dari Medical Express, Senin (1/11/2021).

    Namun, hasil ini juga menunjukkan ada perbedaan protein lonjakan pada varian alfa, beta, dan delta. Ini berarti bahwa vaksin yang dirancang di sekitar salah satu varian baru ini mungkin kurang efektif terhadap varian lain.

    Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya, yang juga dipimpin oleh Dr Katie Doores, yang mengamati respons antibodi COVID-19 dalam waktu tiga bulan.

    “Penelitian ini dimungkinkan karena kolaborasi erat dengan rekan klinis di Rumah Sakit St Thomas yang mampu mengurutkan virus yang menginfeksi pasien yang dirawat di rumah sakit,” terang Dr Katie Doores.

    [Dexpert.co.id]

    (Update dari:CNBC.com )



    High Technology Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.