Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Negara Xi Jinping Bertindak, Harga Batu Bara Langsung Rontok
    Insight News

    Negara Xi Jinping Bertindak, Harga Batu Bara Langsung Rontok

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa30 Oktober 2021Updated:31 Oktober 2021Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Pemerintah China tengah mempertimbangkan untuk melakukan intervensi terhadap harga komoditas yang naik tajam, termasuk batu bara.

    Beberapa waktu lalu, Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China (NDRC) mengungkapkan tengah mempelajari langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengintervensi harga batu bara. Mereka akan melakukan segala upaya agar harga kembali ke kisaran yang masuk akal.

    Salah satunya adalah dengan menggenjot produksi, yang sempat terhambat karena bencana banjir di sejumlah wilayah penghasil batu bara. Jika ini berhasil dilakukan pemerintahan Presiden Xi Jinping, dipastikan kebutuhan impor China akan berkurang.

    Sebagaimana diketahui, pada 18 Oktober 2021, produksi batu bara China tercatat 11,6 juta ton, melonjak 8,6% dibandingkan posisi akhir bulan lalu. NDRC menargetkan produksi 12 juta ton per hari agar harga batu bara bisa turun.

    Menurut perhitungan Refinitiv, jika tingkat produksi Oktober 2021 terjaga hingga akhir tahun, maka pada kuartal IV-2021 produksi batu bara China akan sebanyak 1,07 miliar ton. Ini membuat produksi sepanjang 2021 menjadi 3,99 miliar ton, naik 4% dibandingkan 2020 sekaligus menjadi rekor tertinggi.

    Batu bara merupakan komoditas strategis bagi China, karena sekitar 60% pembangkit listrik di sana menggunakan tenaga batu bara. Tingginya harga batu bara membuat perusahaan listrik kesulitan, terutama saat permintaan juga ikut tinggi.

    Harga batu bara ibarat roller coaster di bulan Oktober. Di awal bulan batu bara terus menanjak hingga memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa, tetapi setelahnya berbalik nyungsep hingga puluhan persen, dan berada di level terendah nyaris 3 bulan terakhir.

    Melansir data Refinitiv, harga batu bara acuan di Ice Newcastle Australia untuk kontrak dua bulan ke depan anjlok 10,12% ke US$ 154,9/ton pada perdagangan Jumat (29/10) kemarin, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 5 Agustus lalu

    Sepanjang pekan ini, batu bara tercatat merosot nyaris 19%. Sementara jika dilihat dari rekor tertinggi sepanjang masa US$ 280/ton yang dicapai pada 5 Oktober lalu, maka harga batu bara sudah ambrol lebih dari 44%.

    China yang terus berupaya mengintervensi pasar batu bara membuat harga acuannya semakin merosot.

    Batu bara adalah komoditas strategis bagi China, karena sekitar 60% pembangkit listrik di sana menggunakan tenaga batu bara. Tingginya harga batu bara membuat perusahaan listrik kelimpungan karena di sisi lain permintaan juga sangat tinggi.

    Pemerintah China sudah memberikan persetujuan bagi 153 penambang untuk meningkatkan produksi. Penambahan produksi diharapkan mampu menurunkan harga, dan dampaknya sudah terlihat belakangan ini.

    Terbaru, China dikabarkan akan melakukan intervensi langsung dengan menetapkan target harga batu bara. Reuters melaporkan rencana tersebut diungkapkan pada pertemuan antara Komisi Pengembangan dan Reformasi Nasional (NDRC) dengan para penambang batu bara, distributor, juga perusahaan pembangkit listrik pada Selasa dan Rabu pekan ini.

    Di sisi lain, terkait dengan krisis energi, perusahaan energi besar China juga sempat mencari kesepakatan jangka panjang dengan pemasok dari Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Oktober lalu.

    Sebuah sumber mengatakan kepada Reuters jika perusahaan energi besar seperti Sinopec Corp dan China National Offshore Oil Company (CNOOC) sedang dalam pembicaraan lanjutan mengenai kontrak jangka panjang dengan eksportir gas alam cair (LNG) dari AS.

    Pembicaraan ini dikatakan dapat menghasilkan kesepakatan senilai puluhan miliar dolar yang akan meningkatkan impor LNG China dari AS di tahun-tahun mendatang. Sebelumnya perdagangan gas antara kedua negara sempat berhenti sebentar saat perang dagang China-AS 2019 silam.

    [Dexpert.co.id]

    (hps/hps)



    Techno for life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.