Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»5 Fakta Kasus Google, Masa Depan Internet Berubah Total
    Insight News

    5 Fakta Kasus Google, Masa Depan Internet Berubah Total

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa17 November 2023Updated:18 November 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada pekan ini akan menyelesaikan tahap pembuktian dalam persidangan dengan Google. Raksasa mesin pencari tersebut dituduh melanggar Undang-Undang Antimonopoli dengan taktik yang digunakan untuk mendominasi interenet dan iklan online.

    Dalam uji coba yang dimulai pada 12 September dan dijadwalkan berakhir pada pekan ini, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) berusaha membuktikan bahwa Google adalah perusahaan yang menyalahgunakan kekuatannya untuk memperoleh keuntungan sendiri.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Untuk mengetahui secara jelas tentang kasus Google yang disebut terbesar sepanjang sejarah, berikut 5 poin penting yang perlu Anda ketahui, dirangkum CNBC Indonesia, Jumat (17/11/2023), dari Reuters.

    Google Bayar Triliunan Rupiah

    Saksi dari raksasa telekomunikasi Verizon, produsen HP Samsung, dan Google sendiri, mengaku bahwa perusahaan membayar US$ 26 miliar pada 2021 untuk memastikan bahwa mesin pencarinya menjadi layanan default (otomatis) pada HP dan broser.

    Hal ini untuk menjaga pangsa pasar Google tetap dominan di industri. Dalam kesaksiannya, CEO Google Sundar Pichai mengaku penting untuk membuat layanannya terpatri secara default di HP, tablet, dan laptop.

    “Kami tentu saja melihat nilainya,” kata dia.

    Perusahaan Lain Memanfaatkan Google

    Kevin Murphy, pakar yang bersaksi untuk Google sekaligus dosen di University of Chicago Booth School of Business, berpendapat bahwa Apple dan pihak lain mempermainkan Google dan Microsoft, yang memiliki mesin pencari Bing, untuk saling bersaing dalam industri ini.

    Anggaran besar yang dikeluarkan Google untuk mempertahankan posisi mesin pencarinya memperlihatkan seberapa ketat persaingan antara Google dan Microsoft.

    Dominasi Google Bikin Harga Iklan Mencekik

    Chief Media Officer untuk UM Woldwide, Joshua Lowcock, merupakan saksi untuk pemerintah AS. Ia menilai dominasi mesin pencari membuat raksasa tersebut turut menguasai pasar iklan digital.

    Berkat monopoli tersebut, Google secara semena-mena menaikkan harga iklan online dalam 10 tahun terakhir. Wakil Presiden dan Manajer Periklanan Google, Jerry Dischler, mengakui perusahaan memperoleh lebih dari US$ 100 miliar pada 2020 lalu dari iklan di mesin pencari.

    Google Membantah Melanggar Hukum Antimonopoli

    Google menilai pemerintah salah dengan mengatakan mereka melanggar hukum untuk mempertahankan pangsa pasarnya yang sangat besar. Menurut Google, mesin pencarinya diminati warga dunia karena kualitasnya.

    Sebab, jika pengguna tak puas dengan mesin pencari default, mereka tetap punya opsi untuk beralih ke mesin pencari lain.

    Senior VP of Services Apple, Eddie Cue, memuji mesin pencari Google dan menyebut telah melakukan pertemuan dengan Microsoft dan DuckDuckGo, yang menggunakan pencarian Bing, tetapi menganggapnya tidak memadai.

    Google Menilai Mesin Pencari Default Tak Terlalu Berguna

    Meski perusahaan telah membayar miliaran dolar AS, namun pengacara Google berargumen status mesin pencari default sebenarnya tak menjamin kesetiaan pengguna jika mereka tak puas.

    Kepala pengacara Google, John Schmidtlein mengatakan Microsoft pernah menjadi layanan default pada beberapa HP bundle Verizon pada 2008, BlackBerry, dan Nokia pada 2011. Namun, pengguna Bing mayoritas tetap lari ke Google.

    Google mengklaim pihaknya tak melakukan monopoli karena selalu berupaya meningkatkan kualitas layanannya dan melindungi privasi pengguna. Jika monopoli, Google tak akan peduli apakah penggunanya puas atau tidak.



    Artikel Selanjutnya


    Update Kasus Google, Masa Depan Internet Terombang-Ambing

    (fab/fab)


    Innovation Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.