Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»AWS, Google, dan Microsoft Tanam Rp131 T, Tapi di Tetangga RI
    Insight News

    AWS, Google, dan Microsoft Tanam Rp131 T, Tapi di Tetangga RI

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa16 November 2023Updated:17 November 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Amazon Web Services (AWS), Google, dan Microsoft mengucurkan dana 300 miliar baht hingga US$ 8,46 miliar di Thailand.

    Juru bicara pemerintah Thailand Chai Wacharonke mengatakan AWS, Google, dan Microsoft akan berinvestasi 100 miliar baht per perusahaan di Thailand.

    Investasi AWS adalah bagian dari komitmen anak usaha Amazon tersebut untuk membangun data center dengan alokasi modal US$ 5 miliar yang akan disalurkan dalam 15 tahun ke depan.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Perdana Menteri [Thailand] yakin investasi AWS akan membuat negara ini lebih kompetitif,” katanya.

    Chai menyatakan Microsoft dan Google juga mempelajari potensi pembangunan data center ukuran raksasa di Thailand.

    Microsoft, Google, dan AWS juga sudah memiliki data center di Indonesia. AWS menjadi perusahaan pertama yang mengumumkan investasi miliaran dolar AS di sektor cloud, diikuti oleh Google dan Microsoft.




    Foto: Data Center (Reuters)

    Indonesia pasar terbesar

    Menurut data IDC, Indonesia adalah pasar cloud terbesar di Asia Tenggara. Belanja cloud di RI bisa mencapai US$933 juta atau Rp 14,6 triliun pada 2023.

    “Jika dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Thailand digabungkan, masih lebih kecil dari Indonesia,” kata Direktur Channels and Strategic Partnerships Google Cloud South East Asia, Megawaty Khie, beberapa waktu lalu.

    Saat ditanya soal kepercayaan orang menggunakan cloud, dia meyakini sudah cukup tinggi. Sebab sudah banyak masyarakat yang malas membeli dan menggunakan hardware jadi akhirnya beralih ke cloud.

    “Sangat tinggi sekarang ini, yang pertama orang malas beli hardware lagi. Mereka dulu beli hardware harus pesan. Harus tunggu dua bulan dan positioning,” jelasnya. “Lebih gampang implementasi. Kamu ngomong sama saya [menyediakan layanan cloud] sorenya udah ada. Adaptasi meningkat,” ujar Megawaty menambahkan.

    Selain itu, banyak orang sudah tidak khawatir lagi menggunakan cloud. Namun Megawaty mencatat ada satu kendala untuk implementasi cloud di dalam negeri.

    Yakni terkait izin yang diberikan dari pemerintah. Misalnya perbankan mau menggunakan cloud, harus mendapatkan izin dulu dari lembaga terkait.


    Artikel Selanjutnya


    Negara Ini Mendadak Larang Google, Ada Apa?

    (dem/dem)


    High Technology Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.