Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Opsel Blak-Blakan, Bisnis Telko Sedang Tak Baik-Baik Saja
    Insight News

    Opsel Blak-Blakan, Bisnis Telko Sedang Tak Baik-Baik Saja

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa13 November 2023Updated:14 November 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Industri telekomunikasi sedang tak baik-baik saja. Ini dikonfirmasi langsung oleh Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI)

    “Kondisi seluler ini sedang tidak baik-baik saja,” jelas Wakil Ketua Umum ATSI, Merza Fachys, diskusi Lelang Spektrum 700 Mhz dan 2,6 Ghz, Upaya Mendorong Penetrasi 5G, Jakarta, Senin (13/11/2023).

    Dia menjelaskan pertumbuhan pendapatan tidak seimbang dengan pertumbuhan trafik data maupun beban biaya regulasi. Saat ini regulatory charges yang ada menyerap 12% dari revenue berbanding dengan pertumbuhan pendapatan hanya 5,6%.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Pendapatan operator tumbuhnya tidak lagi setinggi masa lalu. Saat ini tumbuh sekitar 5,6% secara average growth. Padahal BHP frekuensi pertumbuhannya sudah lebih dari 10%,” kata Merza.

    Untuk industri yang sehat, menurutnya regulatory charges yang dibebankan di bawah 10%. Bebas regulasi sendiri ada banyak hal di dalamnya, namun terbesar terkait dengan frekuensi.

    Selain dengan regulatory charges, pendapatan perusahaan telekomunikasi juga tidak seimbang dengan trafik data. Selama hampir 9 tahun terakhir, trafiknya meningkat 80%.

    “Trafik tinggi tumbuh ratarata 80% dari 2013-2022. Tidak menumbuhkan pendapatan operator yang seimbang. Sehingga 5% dibanding 80%. Yang harus dipikul sama pendapatannya menjadi jomplang,” ungkapnya.

    Saat kondisi ‘berdarah-darah’ ini, perusahaan telekomunikasi diminta untuk bisa berbisnis di bidang digital. Merza mengatakan skenario ini sepertinya sangat bijak.

    Namun dia mengkhawatirkan ini bisa membuat frekuensi jadi terbengkalai. Karena operator lebih berfokus pada bisnis digitalnya.

    “Saya khawatir di sisi lain kalau semua operator akhirnya berbisnis digital, infrastrukturnya ditinggalkan. Tidak ada nanti yang menjaga infrastruktur. Jadi pengguna jaringan saja, jaringannya tidak diurus,” kata dia.

    “Enggak bisa, justru dua-duanya harus tumbuh bareng-bareng. Harus menjaga bareng-bareng, harus sehat bersama,” jelasnya menambahkan.


    Artikel Selanjutnya


    Menkominfo Budi Arie Sebut Internet RI Paling Murah

    (npb/npb)


    Innovation Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.