Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Tak Secerah Dahulu Kala
    Insight News

    Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia Tak Secerah Dahulu Kala

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa2 November 2023Updated:2 November 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Laporan tahunan yang diterbitkan oleh Google, Temasek, dan Bain & Company mencerminkan hantaman keras yang dirasakan oleh pelaku industri teknologi di Indonesia. Proyeksi pertumbuhan ekonomi digital di RI menyusut, arus investasi ke startup pun jeblok.

    Setiap tahun, riset bertajuk e-Conomy Sea menjadi rujukan investor, pelaku usaha, hingga pemerintah dalam mengukur perkembangan ekonomi digital di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bahkan bisa dibilang, laporan tahunan ini adalah salah satu kunci yang membuat investor dan perusahaan asing ramai-ramai mengucurkan miliaran dolar AS ke startup RI.

    Saat dunia terhantam pandemi pun, potensi ekonomi digital di Indonesia masih didaulat cerah oleh Google, Temasek, dan Bain & Company.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Pembatasan aktivitas oleh pemerintah di seluruh dunia untuk mengadang laju penyebaran Covid-19 justru disebut sebagai katalis pertumbuhan ekonomi digital. Warga RI yang sebelumnya masih sulit untuk beralih ke layanan dan platform digital, dipaksa untuk bergeser, mulai dari belanja kebutuhan sehari-hari hingga bersekolah dan bekerja secara online.

    Namun ternyata, peralihan ke platform dan layanan digital tidak permanen. Begitu pembatasan dibuka, banyak konsumen kembali ke kebiasaan sebelum pandemi. Perkembangan ekonomi digital justru mandek seiring dengan pengetatan di pasar finansial global, yang membuat investor tidak seroyal dulu dalam mengguyur modal ke startup.

    Dalam laporan e-Conomy Sea 2023, perubahan ini tertuang dalam revisi angka proyeksi nilai ekonomi digital di Indonesia. Pertumbuhan nilai produk kotor (GMV) yang ditransaksikan lewat aktivitas ekonomi digital Indonesia tidak seciamik sebelumnya.

    Menurut laporan 2023, nilai ekonomi digital Indonesia pada 2022 hanya US$ 76 miliar (Rp 1.206 triliun) pada 2022. Pada laporan 2022 padahal GMV ekonomi digital RI pada 2022 diperkirakan mencapai US$ 77 miliar  (Rp 1.222 triliun).

    Dampak perlambatan pada 2022 bakal terasa hingga masa depan. Jika pada laporan 2022, nilai ekonomi digital Indonesia diprediksi menembus US$ 130 miliar (Rp 2.063 triliun) pada 2025. Pada laporan 2023, memperkirakan GMV yang tercapai pada 2025 cuma US$ 109 miliar (Rp 1.730 triliun).

    Pada tahun ini, ekonomi digital RI diproyeksi melampaui nilai US$ 82 miliar (Rp 1.301 triliun).

    Transportasi – kurir online jeblok

    Proyeksi yang makin pesimistis terjadi di seluruh sektor. Namun, sektor transportasi dan pesan antar yang digawangi para ojek online atau ojol adalah industri yang dinilai masa depan cerahnya berubah paling drastis.

    Google, Temasek, Bain & Company pada 2022 memprediksi nilai bisnis transportasi online dan pesan antar di RI mencapai US$ 15 miliar (Rp 238 triliun pada 2025. Pada laporan 2023, proyeksi 2025 dipangkas lebih dari 40 persen menjadi US$ 9 miliar (Rp 142,8 triliun).




    Penumpang menggunakan jasa ojek daring di Stasiun Palmerah, Jakarta, Kamis (8/9/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

    Masa depan yang tak secerah dulu juga tergambarkan dari arus investasi yang masuk ke perusahaan teknologi di tanah air.

    Pada 2021, investasi ke startup RI memuncak. Nilai investasi saat itu mencapai US$ 9,1 miliar (Rp 144 triliun) dalam 649 kesepakatan pendanaan. Pada 2022 nilai investasi masih tinggi, yaitu US$ 5,1 miliar (Rp 80,9 triliun).

    Sepanjang 6 bulan pertama tahun ini, modal yang masuk ke startup RI jeblok. Nilainya bahkan tak mencapai miliaran dolar, hanya sekitar US$ 400 juta (Rp 6,35 triliun) dalam 100 kesepakatan pendanaan. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya, ada 302 kesepakatan dengan nilai total US$ 3,3 miliar (Rp 52,37 triliun).

    Namun, nada laporan e-Conomy Sea 2023 masih optimistis. Inflasi dan laju pertumbuhan ekonomi yang “makin normal” menjadi titik cerah. Kehilangan pendapatan dari konsumen yang meninggalkan platform digital karena harga dan biayanya tidak semurah dahulu kala, menurut laporan tersebut, juga bakal terkompensasi oleh pelanggan setia atau istilah bahasa Inggrisnya “sticky.“



    Artikel Selanjutnya


    Sudah Punya Rp 4,7 Triliun, Merah Putih Fund Kok Belum Cair?

    (dem)


    Hitech for better life Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.