Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Kasus Google Meluas, Bos Besar Turun Gunung
    Insight News

    Kasus Google Meluas, Bos Besar Turun Gunung

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa27 Oktober 2023Updated:27 Oktober 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Google sedang tersandung kasus antimonopoli di berbagai negara. Mulai dari Amerika Serikat (AS), hingga ke wilayah Eropa, dan terakhir di Jepang.

    Google dituduh melakukan upaya melanggar hukum dalam rangka mempertahankan dominasinya sebagai mesin pencari utama di berbagai platform. Raksasa asal Mountain View itu diduga membayar perusahaan telekomunikasi, produsen HP, dan layanan browser agar menjadi mesin pencari default.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Persidangan Google melawan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) masih terus berlangsung. Dilaporkan Reuters, Jumat (27/10/2023), CEO Alphabet yang merupakan induk Google, Sundar Pichai, akan hadir di persidangan pada Senin pekan depan.

    Pichai dipanggil sebagai saksi. Ia akan diinterogasi soal investasi yang dilakukan perusahaan untuk mempertahankan posisinya sebagai mesin pencari nomor satu.

    Dalam pemeriksaan silang atau cross examination, pemerintah AS akan menanyakan ke Pichai soal keputusan perusahaan membayar miliaran dolar AS setiap tahun untuk menjadikan Google Search sebagai mesin pencari otomatis di smartphone.

    Sebelumnya, pemerintah AS mengatakan Google menguasai 90% pangsa pasar mesin pencari. Selain itu, Google secara ilegal membayar US$ 10 miliar setiap tahun ke beberapa mitra seperti Apple dan AT&T, untuk tetap menguasai pasar.

    Dominasi mesin pencari membuat Google meraup keuntungan besar dari iklan digital. Hal ini juga dinilai tak sehat bagi kompetisi.

    Sejauh ini, Google berdalih kesepakatannya dengan para mitra mematuhi aturan yang berlaku. Google juga mengklaim dominasinya dikarenakan pengguna puas dengan kualitas layanannya.

    Kata Google, jika pengguna tak puas dengan mesin pencari default, mereka tetap bisa mengganti ke penyedia layanan mesin pencari lain.

    Kasus Google meluas ke Asia

    Baru-baru ini, kasus Google juga meluas hingga ke Jepang. Pengawas persaingan usaha Jepang mengatakan pihaknya mulai menyelidiki Google atas kemungkinan pelanggaran Undang-Undang antimonopoli dalam layanan pencarian web.

    Komisi Perdagangan Adil Jepang (JFTC) mengatakan mereka sedang menyelidiki apakah Google melanggar Undang-Undang Antimonopoli Jepang dengan membagi sebagian pendapatannya kepada pembuat smartphone Android dengan syarat mereka tidak memasang mesin pencari saingannya.

    Mereka juga mempelajari praktik Google yang memaksa pembuat smartphone Android memasang aplikasi browser Google Search dan Google Chrome dengan aplikasi Google Play.

    “Ada kecurigaan bahwa melalui langkah-langkah ini mereka mengecualikan aktivitas bisnis pesaing dan membatasi aktivitas bisnis mitra bisnisnya di pasar layanan pencarian,” kata seorang pejabat JFTC, dikutip dari Reuters.

    Pejabat tersebut mengatakan, masalahnya bukan karena layanan Google digunakan secara luas, namun soal persaingan yang tidak sehat.

    “Kami telah meluncurkan penyelidikan ini dengan mengusut apakah situasi di mana layanan penyedia mesin pencari lainnya sulit dikenali sebagai pilihan pengguna, tidak peduli berapa banyak perbaikan yang telah dilakukan,” tegasnya.



    Artikel Selanjutnya


    Masa Depan Google di Ujung Tanduk, Apple Protes Soal Ini

    (fab/fab)


    High Technology Hitech for better life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.