Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Baru Nanjak, AI Diramal Tumbang 2024
    Insight News

    Baru Nanjak, AI Diramal Tumbang 2024

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa11 Oktober 2023Updated:11 Oktober 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Industri kecerdasan buatan (AI) dengan metode generatif semacam ChatGPT dan Google Bard kini jadi topik yang ramai dibahas. Namun, teknologi tersebut diramal akan menghadapi tantangan nyata pada 2024 mendatang.

    Perusahaan analis mengatakan popularitas AI-generatif mulai memudar. Apalagi, biaya operasional yang diperlukan sangat besar. Kontroversi soal risiko yang dibawa AI-generatif bagi masa depan manusia pun menimbulkan kekhawatiran. 


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam laporan terbarunya, CCS Insight membuat prediksi tentang masa depan AI. Firma tersebut mengatakan akan terjadi penurunan drastis untuk penerapan AI-generatif pada tahun depan, lantaran dihadapkan dengan realitas biaya, risiko, dan kompleksitasnya.

    “Kami sangat mendukung AI, Menurut kami, teknologi ini akan berdampak besar pada perekonomian,” kata Wood, dikutip dari CNBC International, Rabu (11/10/2023).

    “Namun, hype seputar AI-generatif pada tahun 2023 begitu besar sehingga kami menganggapnya berlebihan. Ada banyak hambatan yang perlu diatasi untuk memperluas teknologi ini,” imbuhnya.

    Model AI-generatif seperti ChatGPT, Google Bard, Claude Anthropic, dan Synthesia mengandalkan daya komputasi dalam jumlah besar. Pasalnya, AI memerlukan model matematika kompleks yang memungkinkan mereka menentukan respons apa yang harus diberikan untuk menjawab berbagai pertanyaan pengguna.

    Perusahaan harus memperoleh chip bertenaga tinggi untuk menjalankan aplikasi AI. Dalam kasus AI-generatif, seringkali yang dimaksud adalah unit pemrosesan grafis canggih atau GPU, yang dirancang oleh raksasa semikonduktor AS, Nvidia.

    Kini, makin banyak perusahaan merancang chip AI khusus mereka sendiri untuk menjalankan program AI tersebut.

    “Biaya penerapan dan pemeliharaan AI-generatif saja sudah sangat besar,” jelasnya.

    “Sangat baik bagi perusahaan-perusahaan besar untuk melakukan hal ini. Namun, bagi banyak organisasi, banyak pengembang, hal ini akan menjadi terlalu mahal,” kata dia.

    Analis CCS Insight juga memperkirakan bahwa regulasi AI di Uni Eropa yang seringkali menjadi trendsetter dalam hal legislasi teknologi, akan menghadapi kendala.

    UE masih akan menjadi negara pertama yang memperkenalkan peraturan khusus untuk AI. Peraturan ini kemungkinan akan direvisi dan disusun ulang berkali-kali karena pesatnya kemajuan AI.

    “Perundang-undangan belum diselesaikan hingga akhir tahun 2024, sehingga industri harus mengambil langkah awal dalam melakukan pengaturan mandiri,” prediksi Wood.


    Artikel Selanjutnya


    Video: Kecerdasan Buatan Mengancam Dunia

    (fab/fab)


    Insight for you Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.