Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Ada ‘Kota Hantu’ di Malaysia, Kini Jadi Sarang Pemabuk
    Inspiring You

    Ada ‘Kota Hantu’ di Malaysia, Kini Jadi Sarang Pemabuk

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman4 September 2023Updated:4 September 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Malaysia punya proyek properti mangkrak yang berubah menjadi ‘kota hantu.’ Forest City, nama proyek itu, menelan biaya pembangunan US$100 miliar atau sekitar Rp1.500 triliun (asumsi kurs Rp15.245/US$). Meski sudah menghabiskan biaya fantastis, properti itu tak laku, tak ada yang mau tinggal di sana. 

    Dikembangkan oleh Country Garden sejak 2006, Forest City mangkrak, salah satunya karena kemarahan publik atas pengaruh China yang dipandang semakin meningkat di Malaysia. Melansir dari France24, perusahaan real estat swasta terbesar di Beijing yang membangun Forest Citu sedang terbebani utang sebesar US$196 miliar atau sekitar Rp2.900 triliun.




    Foto: REUTERS/EDGAR SU
    A view of the residential apartments in Country Garden’s Forest City development in Johor Bahru, Malaysia August 16, 2023. REUTERS/Edgar Su

    Pada paruh pertama tahun 2023, Country Garden mendapatkan perpanjangan batas waktu pembayaran obligasi utama oleh kreditur untuk menghindari potensi gagal bayar. Namun, perusahaan tersebut ternyata juga sedang menghadapi tenggat pembayaran bunga senilai jutaan dolar. Hal ini juga turut meningkatkan risiko gagal bayar bagi Country Garden.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Saya berharap Country Garden dapat mengatasi masalah keuangan mereka,” kata salah satu pembeli apartemen Forest City senilai US$430 ribu pada lima tahun lalu, Zhao Bojian, dikutip Senin (4/9/2023).

    “Jika tidak ada yang datang ke Forest City, kita tidak bisa berbisnis di sini,” imbuhnya.

    Forest City adalah salah satu dari proyek ambisius Country Garden yang membawa perusahaan berada di puncak kejayaan. Namun, kota yang menargetkan pembeli kelas menengah dari etnis Tionghoa ini justru berisiko membuat Country Garden jatuh.

    Diluncurkan di bawah Belt and Road Initiative China, dengan perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh seorang sultan Malaysia, Forest City hanya diisi sekitar 9 ribu penduduk. Angka tersebut jauh di bawah target 700.000 penduduk.

    ‘Kota Hantu’ yang Jadi Sarang Pemabuk 




    A view of the residential apartments in Country Garden's Forest City development in Johor Bahru, Malaysia August 16, 2023. REUTERS/Edgar SuFoto: REUTERS/EDGAR SU
    A view of the residential apartments in Country Garden’s Forest City development in Johor Bahru, Malaysia August 16, 2023. REUTERS/Edgar Su

    Menurut laporan yang sama, para pekerja konstruksi hanya bekerja pada siang hari. Memasuki malam hari, jalan tol empat jalur yang sepi hanya diisi oleh keheningan mencekam.

    Selain itu, kota yang terletak di seberang kota Singapura ini hanya diterangi oleh beberapa lampu kecil, padahal proyek ini memiliki lebih dari 20 menara tinggi.

    Di bawah menara-menara tersebut, terdapat sederet toko yang tutup. Beberapa pintu toko bahkan ditempeli oleh dokumen pengadilan yang menuntut pembayaran tertunggak. Di dalam toko, banyak sampah berserakan di lantai.

    “Semua orang datang ke sini untuk minuman keras,” kata teknisi berbasis Singapura, Denish Raj Ravindaran.

    “Aku tidak akan tinggal di sini (Forest City), ini adalah kota hantu. Jalan gelap dan berbahaya serta tidak ada lampu jalan,” lanjutnya.

    Menurut laporan yang sama, sebagian besar aktivitas di Forest City diisi oleh para pekerja asing asal Nepal atau Bangladesh. Para pekerja itu bertugas untuk merawat semak-semak kota, menyapu jalan-jalan, atau menjaga menara yang sudah dibangun.

    Sementara itu, pantai pasir buatan yang dihiasi sampah kaleng bir memiliki tanda peringatan terkait keberadaan buaya.

    Di salah satu menara berlantai 45, seorang pejabat mengatakan bahwa hanya dua lantai apartemen Forest City yang dihuni, sementara sisanya dijual.

    “Aku datang ke sini berlibur setelah melihat video TikTok,” kata juru tulis toko Nursziwah, Zamri.

    “Jika Anda bertanya apakah saya akan tinggal di sini, jawabannya adalah tidak,” tegasnya.

    Menurut seorang petugas keamanan, saat ini banyak pembeli apartemen yang tidak tinggal di Forest City. Para pembeli menjadikan mereka sebagai “pemilik yang tidak hadir”.

    Sebelumnya, Pemerintah Malaysia telah menentang izin tinggal bagi investor ekspatriat dan mengkritik proyek ini karena hanya dibangun untuk orang asing. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, pun telah berusaha untuk menyelamatkan Forest City dari ancaman proyek mangkrak.

    Pada minggu lalu, Anwar mengumumkan pembentukan “zona keuangan khusus” dan insentif lainnya, seperti tarif pajak penghasilan khusus dan visa multiple entry.

    Sementara itu, para pengamat mengatakan bahwa Forest City sedang menghadapi tantangan terbesar.

    “Tekanan likuiditas bisa berdampak pada kemampuan mereka untuk menyelesaikan proyek perumahan di luar negeri,” kata Kepala Ekonom Asia-Pasifik di perusahaan asuransi kredit Coface, Bernard Aw.



    Artikel Selanjutnya


    Ini Kata Chris Martin Soal Desakan Konser Coldplay Dibatalkan

    (hsy/hsy)


    Never Give Up Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.