Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Facebook Blokir Kanada Gegara Ikut Jokowi, Warga Tetap Setia
    Insight News

    Facebook Blokir Kanada Gegara Ikut Jokowi, Warga Tetap Setia

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa30 Agustus 2023Updated:3 September 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Meta (Facebook, WhatsApp, Instagram) memblokir konten berita di Kanada mulai bulan ini. Keputusan tersebut menyusul berlakunya aturan yang mengharuskan penyedia platform membayar komisi konten ke perusahaan media.

    Namun, ternyata pemblokiran tersebut tak berpengaruh ke penggunaan Facebook. Setidaknya begitu yang terlihat dari data dua firma analitik independen, Similarweb dan Data.ai.

    Pengguna aktif harian (DAU) dan durasi penjajalan Facebook di Kanada tak mengalami perubahan signifikan sejak Meta menetapkan pemblokiran, dikutip dari Reuters, Rabu (30/8/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    DAU Facebook di Kanada masih berada di kisaran 5 jutaan hingga akhir Agusuts, menurut data Similarweb. Grafik menunjukkan stabilitas sejak bulan sebelumnya.

    Waktu yang dihabiskan pun masih rata-rata di 40 menitan per hari dari akhir Juli hingga akhir Agustus.

    Laporan ini seakan mengonfirmasi klaim Meta beberapa saat lalu. Induk Facebook tersebut mengatakan konten berita tak berdampak besar terhadap trafik ke platform-nya.

    Untuk itu, Meta menilai kewajiban membayar konten berita ke perusahaan media tak masuk akal secara hitung-hitungan bisnis. Meta menolak berkomentar untuk data yang dihimpun Reuters dari Similarweb dan Data.ai.

    Aturan pemerintah Kanada yang dinamai ‘Online News Act’ diteken pada Juni lalu. Platform seperti Meta dan Google diminta memberikan kompensasi ke perusahaan media Kanada, setiap kali konten mereka didistribusikan ke layanan internet tersebut.

    Meta dan Google menolak aturan tersebut karena dinilai tak sesuai dengan bisnis mereka. Secara spesifik, Meta mengatakan link artikel hanya berkontribusi tak sampai 3% dari seluruh konten di Facebook. Artinya, tak ada nilai ekonomi dari distribusi berita.

    Sebagai informasi, aturan yang dilakukan Kanada juga sedang digodok di Indonesia. Pada Hari Pers Nasional, Presiden RI Joko Widodo mengatakan salah satu prioritasnya adalah aturan Publisher Rights yang mengharuskan Google, Facebook, dkk untuk membayar berita ke perusahaan media.

    Penggodokan aturan ini di Indonesia masih dikaji lebih lanjut oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), lembaga independen, serta penyedia platform. Kita tunggu saja kelanjutannya.


    Artikel Selanjutnya


    Ikut Jokowi, PM Kanada Teriak Dibully Google dan Facebook

    (fab/fab)


    Smart your life Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.