Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Alasan RI Sasaran Empuk Hacker Ada di Dua Software Windows
    Insight News

    Alasan RI Sasaran Empuk Hacker Ada di Dua Software Windows

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa8 Agustus 2023Updated:8 Agustus 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Penjahat siber kerap menjadikan Indonesia sebagai sasaran empuk dalam berbagai kasus kejahatan. Hal ini terungkap dalam laporan lanskap keamanan siber 2023 dari Ensign Infosecurity.

    Adapun grup penjahat siber Desorden, Dark Pink, dan Naikon, menjadi kelompok yang perlu diantisipasi.

    Ketiganya disebut punya kemampuan bahasa Melayu yang dapat mendukung serangan. Untuk itu selain Indonesia, Malaysia juga menjadi target dari kelompok hacker ini sebab memiliki kemiripan bahasa.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Malaysia dan Indonesia sebenarnya memiliki kelompok penyerang yang sama. Jadi, Malaysia dan Indonesia memiliki Dark Pink, Lotus Blossom, dan Naikon,” Teo Xiang Zheng, Vice President of Advisory, Consulting Ensign InfoSecurity di Jakarta, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (8/8/2023).

    “Kami menganalisis bahwa hal ini sebagian besar disebabkan oleh kesamaan bahasa yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok penjahat tersebut. Jadi, jika mereka mengincar Malaysia, mereka juga menargetkan Indonesia dan sebaliknya karena adanya kesamaan bahasa,” lanjut dia.

    Diketahui, Desorden merupakan grup yang bergerak dengan motivasi finansial alias demi mendapatkan uang.

    Sedangkan Dark Pink, Lotus Blossom, dan Naikon merupakan grup yang memiliki hubungan dengan sebuah negara. Target mereka bukan uang, melainkan pencurian informasi atau untuk sabotase sistem. Ketiga grup ini biasanya memakai metode serangan seperti rekayasa sosial atau social engineering (soceng) dengan meniru aplikasi untuk mengelabui targetnya.

    Sektor-sektor favorit sasaran para hacker ini adalah lembaga pemerintahan, layanan finansial, asuransi, dan industri komersial.

    Seperti contohnya, serangkaian serangan siber yang dilakukan oleh Desorden menyebabkan industri komersial terpukul secara signifikan. Mereka membobol data dan melakukan serangan ransomware terhadap usaha kecil dan menengah.

    Sering dieksploitasi

    Ensign juga mendapati dua kerentanan yang seringkali dieksploitasi di Indonesia, yakni satu kerentanan dari tahun 2006 dan satu lagi dari tahun 2017.

    “Hal ini menunjukkan bahwa pelaku ancaman melihat keuntungan atas investasi yang signifikan dari kerentanan yang lebih tua, dan menunjukkan bahwa tingkat keamanan dunia maya Indonesia di bagian permukaan lebih rendah daripada yang kami amati di wilayah lain yang sudah matang,” tulis Ensign dalam laporannya.

    “Hal ini menyiratkan bahwa organisasi di Indonesia memiliki banyak hal yang harus dikejar saat menambal kerentanan,” tambahnya.

    Dua kerentanan yang dimaksud adalah CVE-2017-0199 yang merupakan Arbitrary Code Execution di Microsoft Office 2007 sampai 2016, pada Windows Vista SP2 hingga Windows 8.1, serta Windows Server 2008 SP2;

    Dan CVE-2006-1540 yang merupakan Denial of Service and Arbitrary Code Execution pada Microsoft Office 2000 hingga 2003.

    Sementara itu, laporan dari perusahaan global cybersecurity, Kaspersky, mengungkapkan Indonesia mengalami sekitar 7 juta serangan siber pada kuartal kedua 2023.

    Walaupun angka tersebut sangat besar, data Kaspersky menunjukan penurunan hingga 30% atas upaya serangan siber pada pengguna internet Indonesia dari periode April hingga Juni tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Total sebanyak 7.729.320 deteksi ancaman online berhasil diblokir selama periode April hingga Juni tahun ini. Ini adalah penurunan 30% dibandingkan dengan 11.083.474 deteksi pada periode yang sama tahun lalu.

    Namun, angka tersebut sedikit meningkat, yakni sebesar 1% dibandingkan periode Januari hingga Maret tahun ini dengan 7.651.841 deteksi ancaman online.

    Pada sisi serangan lokal, total 28,3 persen pengguna di Indonesia menjadi sasaran ancaman lokal pada periode April hingga Juni 2023. Kaspersky mendeteksi sebanyak 13.015.667 insiden lokal pada komputer partisipan di Indonesia.

    Angka ini menurun 3,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 13.533.656 deteksi. Data ini juga menempatkan Indonesia di posisi ke-66 dalam jumlah serangan siber secara global.



    Artikel Selanjutnya


    ‘Bos’ Bjorka Ditangkap FBI, Hacker Lain Muncul Jadi Bandar

    (dem)


    Innovation Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.