Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Rahasia Gigi Putih Bersih dan Rapi Manusia Zaman Dulu
    Insight News

    Rahasia Gigi Putih Bersih dan Rapi Manusia Zaman Dulu

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa2 Agustus 2023Updated:6 Agustus 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Hampir semua tengkorak manusia kuno, yaitu ratusan tahun lalu hingga era prasejarah, memiliki gigi yang rapi dan putih. Pada era tanpa dokter gigi, behel, atau pasta gigi, senyum manusia di zaman dulu bisa berkilau seperti selebritas. Kenapa bisa? 

    Menurut IFLScience, alasan gigi manusia kuno tersusun rapi adalah tren penyusutan rahang manusia. Rahang yang makin lama makin sempit, membuat gigi manusia modern bertumpuk berebut tempat.

    Dalam beberapa abad terakhir, dampak paling nyata dari rahang yang menyusut ini adalah gigi bungsu yang “tak kebagian tempat.” Menurut American Academy of Oral and Maxillofacial Surgeons, salah satu asosiasi dokter bedah gigi AS, 90 persen manusia harus melalui operasi bedah gigi untuk mencabut – paling tidak – satu dari empat gigi bungsu.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Pada era pra-industri, masalah soal gigi bungsu jarang ditemui. Namun, kendala lain soal kesehatan gigi tercatat banyak terjadi.

    Jika ditelusuri ke era sebelum manusia bercocok tanam, masalah gigi bungsu adalah suatu kejadian langka. Bahkan, bentuk rahang manusia dari era ini cenderung “sempurna.” 

    Dalam buku berjudul The Story of Human Body, ahli biologi evolusi Daniel Lieberman menyatakan, “Museum tempat saya bekerja punya ribuan tengkorak kuno dari seluruh dunia. Tengkorak yang berasal dari beberapa ratus tahun ke belakang adalah mimpi buruk bagi dokter gigi. Penuh gigi bolong dan tanda infeksi. Gigi berhimpitan di rahang. Satu dari empat tengkorak punya masalah gigi bungsu.”

    Gigi tengkorak dari era sebelum revolusi industri, lanjutnya, juga kerap dipenuhi lubang dan abses. Namun, hanya sekitar 5 persen dari tengkorak dari era ini yang gigi bungsunya bermasalah.

    “Di sisi lain, kondisi gigi tengkorak dari era pemburu-pengumpul [hunter-gatherer] nyaris sempurna. Tampaknya, dokter gigi hampir tidak pernah dibutuhkan di Zaman Batu,” kata Lieberman.

    Pada 2015, peneliti mempelajari 292 tengkorak yang ditemukan di wilayah Levant (juga dikenal dengan Syam dan sekitarnya), Anatolia (sekitar Turki) dan Eropa dari era 28.000 hingga 6.000 tahun yang lalu. Hasilnya, tengkorak yang berasal dari wilayah pertanian punya rahang yang lebih kecil dan rendah dibanding tengkorak yang berasal dari wilayah dan era pemburu-pengumpul.

    Perbedaan ini, menurut penelitian tersebut, menggambarkan perubahan pada makanan manusia. Sebelum kemunculan teknik pertanian sekitar 12.000 tahun lalu, makanan utama manusia adalah daging dan tanaman yang tumbuh liar. Keduanya lebih “keras” sehingga membutuhkan lebih banyak kunyahan.

    Setelah revolusi agraria, manusia punya sumber makanan seperti sayuran hingga gandum dan beras, yang tidak membutuhkan kekuatan rahang besar ketika dikunyah. Kondisi ini terus berubah di era modern dengan kemunculan makanan olahan yang bisa dikunyah nyaris “tanpa tenaga.”

    Perubahan ini, menurut ahli, bukan dampak dari evolusi karena terjadi hanya dalam beberapa generasi. Artinya, perubahan bentuk dan ukuran rahang manusia bukan bawaan genetika. Kemungkinan besar, rahang manusia menyusut dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi sejak bayi sampai masa perkembangan.

    IFLScience menyatakan perubahan ini menimbulkan “wabah rahang” yang berpengaruh ke banyak permasalahan kesehatan manusia modern.

    Selain kesehatan gigi dan mulut, rahang yang menciut juga berpengaruh ke ukuran rongga mulut dan sistem pernapasan. Masalah ini membuat masalah seperti apnea saat tidur dan mengorok, yang kemudian membuat manusia sulit tidur sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung, darah tinggi, depresi, kanker, hingga Alzheimer.

    Menurut ahli, “wabah rahang” ini bisa dikendalikan. Salah satu caranya adalah memastikan perkembangan rahang optimal sejak dini dengan memberikan anak pada masa perkembangan permen karet bebas gula dan memberikan “makanan yang lebih padat” saat bayi mulai beralih dari makanan cair.

    “Orang tua, berkolaborasi dengan dokter gigi, bisa membantu anak menghindari masalah kesehatan serius pada saat mereka dewasa,” kata Paul Ehrlich dari Stanford University.

    (dem/dem)


    Teknologi Informasi Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.