Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Bendung Katulampa Kering, Ternyata Sudah Diramal BMKG
    Insight News

    Bendung Katulampa Kering, Ternyata Sudah Diramal BMKG

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa2 Agustus 2023Updated:2 Agustus 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Bendung Katulampa dilaporkan terus menyusut. Tinggi muka air (TMA) berada dalam titik nol dan di bawah normal pada bulan Juli 2023 lalu.

    Menurut petugas jaga bendung Katulampa, Ahmad Aliyudin, aliran masuk itu digunakan untuk kebutuhan induk irigasi. Sehingga tidak ada limpasan ke sungai Ciliwung, dikutip dari detik.com, Rabu (2/8/2023).

    Dilaporkan masih ada air yang mengalir ke Ciliwung namun hanya 100 liter per detik. Tujuannya adalah agar ekosistem sungai tetap terjaga.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Ahmad menjelaskan hujan jarang turun di kawasan Puncak, Cisarua. Pada akhirnya ini menyebabkan debit air di bendungan tersebut tidak pernah mengalami kenaikan.

    “Karena memang intensitas cuaca dari kawasan Puncak selama bulan Juli, memang belum ada hujan yang menyebabkan penambahan debit Tinggi Muka Air Sungai Ciliwung,” katanya.

    Fenomena kekeringan sebelumnya sudah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Lembaga itu mengatakan kondisi kemarau kali ini lebih kering dan hujan akan jarang turun hingga tidak ada sama sekali.

    Wilayah Jakarta dan sebagian besar Jawa Barat dinyatakan telah masuk ke musim kemarau pada bulan Juli. Laporan BMKG pada Sabtu (22/7/2023), mengatakan tidak ada hujan meski terjadi sejumlah hujan ringan, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (2/8/2023).

    Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga pernah menyinggung fenomena kemarau kering. Hal tersebut terjadi akibat pemanasan Samudera Pasifik dan Hindia yang memicu penurunan curah hujan, yakni El Nino dan India Ocean Dipole (IOD) positif.

    Pada bulan Juli, BMKG mencatat indeks El Nino 1,01 dengan level moderate. Ini telah masuk ke level index positif.

    Menurut Dwikorita, catatan tersebut menjadikan musim kemarau tahun ini lebih kering dari biasanya. Curah hujan juga disebut pada kategori rendah dan sangat rendah.

    Dia mengatakan hujan bakal jarang terjadi, yakni selama satu kali per bulan atau tidak turun sama sekali. Puncak kemarau di Indonesia diprediksi pada Agustus hingga awal bulan September.


    Hitech for better life Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.