Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Fenomena Sinar Matahari Putih ‘Surya Pethak’
    Insight News

    Fenomena Sinar Matahari Putih ‘Surya Pethak’

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa15 September 2021Updated:15 September 2021Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Dalam ramalan Sabda Palon Noyo Genggong disebutkan ada tanda pergantian ke zaman baru. Namanya Surya pethak di mana sinar Matahari yang biasanya kemerahan saat terbit hingga tenggelam berubah memutih. Fenomena ini terjadi selama 7 hingga 40 hari.

    Apa penjelasan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengenai hal itu?

    Peneliti Lapan Andi Pangerang menjelaskan sinar Matahari terdiri dari spektrum warna yang memiliki gelombang yang berbeda-beda, yang mana ungu memiliki panjang gelombang terpendek dan merah memiliki panjang gelombang terpanjang.

    Ketika sinar Matahari menyentuh atmosfer Bumi, spektrum dengan panjang gelombang yang lebih panjang seperti merah, kuning, jingga akan dengan mudah melewati atmosfer, sementara panjang gelombang yang lebih pendek seperti biru dan ungu dihamburkan atmosfer ke segala arah.

    “Itulah penyebab Matahari dan langit tampak kemerahan ketika terbit dan tenggelam dan mengapa saat siang Matahari berwarna putih dan langit berwarna biru,” ujar Andi Pangerang seperti dikutip dari situs Lapan, Rabu (15/9/2021).

    Terkait fenomena Surya Pethak, Matahari yang merona putih selama siang hari sejak terbit hingga tenggelam, Andi Pangerang menduga hal tersebut kemungkinan karena kabut awan yang dapat menghalangi sinar Matahari yang melalui atmosfer. Ini ditimbulkan oleh letusan gunung berapi maupun perubahan sirkulasi air laut yang dapat meningkatkan penguapan uap air.

    “Sangat kecil kemungkinan kabut awan yang menyelimuti permukaan Bumi ditimbulkan oleh penurunan aktivitas Matahari berkepanjangan seperti yang terjadi pada tahun 1645 hingga 1715.” ungkapnya.

    Andi menambahkan fenomena Surya Pethak tidak akan terjadi setidaknya jika dikaitkan dengan aktivitas Matahari. Akan tetapi, fenomena ini masih dapat dimungkinkan terjadi oleh letusan gunung berapi dan perubahan siklus air laut yang hingga saat ini masih sulit diprediksi oleh para ilmuwan vulkanologi dan oseanografi.

    [Dexpert.co.id]

    (Update dari:CNBC.com )



    Mind your business Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.