Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Project S TikTok Shop Disebut ‘Bunuh’ UMKM RI, Apa Itu?
    Insight News

    Project S TikTok Shop Disebut ‘Bunuh’ UMKM RI, Apa Itu?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa11 Juli 2023Updated:11 Juli 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Menteri Koperasi dan UKM (MeKopUKM) Teten Masduki menyinggung soal hadirnya Project S TikTok Shop.

    Ia berharap Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mempercepat revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 50/2020 tentang Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Elektronik (PPMSE).

    Dalam keterangan pers, Teten mengatakan revisi ini diperlukan agar bisnis UMKM tak terganggu oleh kecurigaan hadirnya Project S TikTok Shop.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Kecurigaan tentang Project S TikTok Shop ini pertama kali mencuat di Inggris. Project S TikTok Shop ini dicurigai menjadi cara perusahaan untuk mengoleksi data produk yang laris-manis di suatu negara, untuk kemudian diproduksi di China.

    Lalu apa sebenarnya Project S Tiktok Shop?

    Sesuai namanya, Project S TikTok merupakan proyek dari aplikasi video pendek asal China, TikTok. Perusahaan ingin memperluas penawaran ritel online-nya, di mana perusahaan induk di China, ByteDance, akan menjual produk mereka sendiri melalui TikTok Shop.

    Dalam beberapa minggu terakhir, pengguna Inggris mulai melihat fitur belanja baru dalam aplikasi TikTok yang disebut “Trendy Beat”. Ini merupakan bagian yang menawarkan barang-barang yang populer di video.

    Semua barang yang diiklankan dikirim dari China, dijual oleh perusahaan yang terdaftar di Singapura yang dimiliki oleh perusahaan induk TikTok yang berbasis di Beijing, ByteDance, menurut pengajuan dan orang-orang yang mengetahui proyek tersebut.

    Mengutip Financial Times, TikTok mengatakan sedang menguji fitur tersebut. “Kami selalu mencari cara baru untuk meningkatkan pengalaman komunitas kami, dan kami sedang dalam tahap awal bereksperimen dengan fitur belanja baru,” kata perusahaan.

    Sumber yang mengetahui hal ini menambahkan ByteDance sedang membangun unit ritel online untuk menantang grup seperti merek fashion cepat Shein dan aplikasi saudara Pinduoduo, Temu, sebuah situs yang menjual produk murah dan banyak fitur di media sosial.

    Project S TikTok Shop dipimpin oleh Bob Kang, kepala ecommerce ByteDance, yang baru-baru ini melakukan perjalanan dari Shanghai untuk mengoordinasikan upaya di kantor TikTok di London.

    Bahkan demi meningkatkan bisnis e-commerce, ByteDance telah merekrut karyawan dari Shein.

    “Bob Kang terobsesi dengan Temu dan meniru kesuksesannya, dan menurutnya mereka dapat melakukan ini dengan memasukkan diri mereka ke dalam proses pasokan dan penjualan,” kata orang lain yang mengetahui strategi tersebut di Inggris.

    ByteDance telah lama mendorong untuk memperluas penawaran e-commerce TikTok untuk meniru kesuksesannya dengan Douyin, aplikasi saudaranya di China, yang telah mencapai penjualan lebih dari 10 miliar produk setiap tahunnya. ByteDance sendiri menghasilkan US$85 miliar dalam penjualan pada tahun 2022, yang sebagian besar berasal dari bisnisnya di China.

    Pasar TikTok Shop telah sukses di pasar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Vietnam, tetapi masih berjuang untuk mendapatkan daya tarik di Inggris, tempat peluncurannya lebih dari dua tahun lalu.

    TikTok mengalami restrukturisasi yang signifikan bulan lalu dalam upaya untuk memfokuskan kembali upaya e-niaganya di pasar yang ada, seperti Inggris, alih-alih memulai ekspansi internasional yang lebih luas di pasar barat lainnya.

    Upaya sebelumnya untuk meniru model Shien dan Temu telah gagal. Tiga aplikasi belanja ByteDance – Dmonstudio, Fanno dan If Yooou – telah ditutup atau ditinggalkan.

    “ByteDance menyadari bahwa mereka ingin membangun merek milik sendiri di aplikasi TikTok daripada membuat aplikasi independen seperti Shein dan Temu,” kata salah satu karyawan.

    Laman belanja Trendy Beat akan menautkannya ke perusahaan bernama Seitu, yang terdaftar dengan alamat di Singapura. Tiga orang sumber yang mengetahui Project S mengatakan Seitu dimiliki oleh ByteDance, dan TikTok mengonfirmasi bahwa itu adalah anak perusahaan.

    Menurut catatan publik, Seitu juga terhubung dengan If Yooou, bisnis ritel milik ByteDance. Lim Wilfred Halim, kepala kepala anti-penipuan dan keamanan e-niaga global TikTok di Singapura, terdaftar sebagai direktur Seitu.

    ByteDance kabarnya sedang mencari pendapatan baru yang dapat membuat penilaiannya sebesar US$300 miliar, yang menjadikannya sebagai perusahaan rintisan swasta paling bernilai di dunia. Ini dilakukan menjelang penawaran umum perdana yang diharapkan akan terjadi dalam dua tahun ke depan.



    Artikel Selanjutnya


    Warga Pindah Belanja di TikTok, Shopee-Lazada Kena Getahnya

    (fab/fab)


    High Technology Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.