Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Warga Sudah Candu TikTok Parah, Riset Sebut Mirip Judi
    Insight News

    Warga Sudah Candu TikTok Parah, Riset Sebut Mirip Judi

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa23 Juni 2023Updated:23 Juni 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Media sosial dipenuhi dengan ribuan konten, banyak yang bermanfaat tapi juga tak sedikit konten ekstrem, tidak pantas, dan berbahaya.

    Parahnya, konten-konten buruk tersebut terus dapat diakses bebas dengan mudah dan luas oleh anak-anak dan remaja.

    Konten-konten tersebut dapat muncul dengan adanya fitur seperti push notifications, pemutaran konten otomatis, scrolling tanpa batas, tampilan populer, serta algoritma yang memanfaatkan data pengguna untuk menyajikan konten rekomendasi.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Mekanisme ini mirip seperti yang dijalankan oleh TikTok, Instagram melalui Reels, serta YouTube melalui Shorts.

    Menurut salah satu model studi terbaru, hampir sepertiga (31%) dari pengguna media sosial dihadapkan dengan tantangan pengendalian diri.

    Selanjutnya, beberapa peneliti percaya bahwa paparan media sosial bisa terlalu merangsang inti otak dan dapat memicu kecanduan.

    Candu Medsos Seperti Judi dan Narkoba

    Studi lain menunjukkan bahwa orang yang sering menggunakan media sosial bisa mengalami perubahan struktur otak yang mirip dengan perubahan yang terlihat pada individu dengan penggunaan zat adiktif atau kecanduan judi.

    Menurut laporan Social Media and Youth Mental Health: The U.S. Surgeon General’s Advisory, dalam perwakilan survei nasional terhadap anak perempuan usia 11-15, sepertiga mengatakan bahwa mereka merasa “kecanduan” pada pergaulan platform media.

    Bahkan, dalam beberapa kejadian terdapat kasus kematian pada anak-anak yang dikaitkan dengan konten bunuh diri dan menyakiti diri, serta melakukan tren challange yang berisiko.

    Meskipun setiap perusahaan media sosial memberikan jaminan keamanan, namun penelitian menemukan bahwa beberapa platform media sosial menunjukkan penggambaran langsung tentang tindakan menyakiti.

    Media sosial juga melanggengkan konten tentang ketidakpuasan pada tubuh, perilaku makan yang tidak teratur, perbandingan sosial, dan soal harga diri yang rendah, terutama di kalangan remaja perempuan.

    Dalam tinjauan terhadap 36 studi, ditemukan hubungan yang konsisten antara cyberbullying melalui media sosial dan depresi di kalangan anak-anak dan remaja, dengan remaja perempuan dan remaja minoritas seksual lebih mungkin melaporkan mengalami insiden cyberbullying.

    Selain itu, platform media sosial dapat menjadi situs untuk perilaku predator dan interaksi dengan penjahat sibet yang menargetkan anak-anak dan remaja. Misalnya, orang dewasa yang ingin mengeksploitasi anak-anak secara seksual, memeras mereka secara finansial dengan ancaman, atau penyebaran gambar intim.

    Tren Roleplay di TikTok

    Bicara soal tren challange, di Tiktok baru-baru ini muncul sebuah ‘roleplay’ di TikTok. Mulanya karena sebuah video yang viral memperlihatkan seorang ayah memergoki anaknya tengah bermain roleplay.

    Dalam konteks video ayah yang viral, ia memarahi putrinya karena memainkan peran yang tidak sesuai dengan usianya. Sang anak bermain roleplay dengan melibatkan orang asing dan seolah-olah memiliki ‘anak’.

    Permainan yang ramai di media sosial dan kerap disebut ‘RP’ ini juga bisa memerankan karakter dengan sangat niat. Misalnya, pemain akan menggunakan nama lain dengan gambar profil yang sesuai karakter RP.

    Melansir Itgeared, pemain RP biasanya akan memasukkan informasi fiktif. Tujuannya untuk mempertahankan identitas yang tengah dilakoni.

    Psikiater Lahargo Kembaren, SpKj menjelaskan alasan seorang anak memainkan RP dengan orang yang tidak dikenal. Menurutnya, anak ingin mendapatkan perlakuan yang tidak didapatkan dalam kehidupan nyatanya.

    Sisi buruknya, RP akan menimbulkan adiksi. Anak yang memainkannya tidak bisa berhenti melakukannya, karena merasa nyaman dan tenang.

    “Ketika dia roleplay, ada kenyamanan, ‘ternyata senang ya aku jadi peran ini’. Itu di otaknya akan keluar hormon dopamine yang bikin kenyamanan bagi dia. Dia akan merasa tenang dan nyaman sesaat, tapi ketika sudah menurun dia tidak punya cara lain lagi untuk mendapatkan ketenangan itu selain melakukan hal yang sama, sehingga terjadilah pola perilaku yang berulang-ulang,” jelas Lahargo dikutip dari detik.com.

    Dia menambahkan, orang tua perlu mengetahui bahwa kebutuhan anak bukan hanya terkait hal-hal fisik, namun juga emosional. Kedekatan emosional antara anak dan orang tua perlu dibangun dan dipelihara.



    Artikel Selanjutnya


    Perhatian! Main TikTok Sekarang Hanya Bisa 1 Jam Sehari

    (fab/fab)


    Techno for life Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.