Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Bumi Panas 2023, NASA Warning Paling Gerah Sepanjang Sejarah
    Insight News

    Bumi Panas 2023, NASA Warning Paling Gerah Sepanjang Sejarah

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa19 Mei 2023Updated:19 Mei 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Tanda Bumi mulai memanas terlihat dari luar angkasa. Ini berasal dari NASA yang berhasil mendeteksi El Nino.

    Satelit Sentinel-6 Michaeil Freilich berhasil merekam pergerakan gelombang Kelvin, fenomena sebelum datangnya El Nino. Gelombang itu bergerak melintasi Samudera Pasifik ke arah timur.

    Pada April dan Mei, gelombang Kelvin diketahui bergerak ke arah timur menuju pantai barat Amerika Selatan. Tinggi gelombangnya hanya 5-10 cm, namun lebarnya ratusan kilometer.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Gelombang tersebut terbentuk di wilayah khatulistiwa, dan akan mendorong air hangat ke atas Samudera Pasifik bergerak ke arah barat.

    Menurut Josh Wills dan NASA, pihaknya akan selalu mengamati pergerakan El Nino. Sebab, jika fenomena tersebut membesar maka akan berpengaruh pada suhu di Bumi.

    “Kami akan mengamati El Nino seperti elang,” kata Josh Wills dari NASA. “Jika [El Nino] ini besar, suhu panas di Bumi akan mencetak rekor.”

    Sebagai informasi, El Nino merupakan bagian dari siklus iklim Enso, yakni yang dimulai dengan pergerakan angin ke arah timur sepanjang khatulistiwa. Fenomena ini akan membuat air permukaan menuju arah barat dari benua Amerika ke Asia.

    Pergerakan air hangat ini akan membuat air dingin naik ke permukaan. Saat El Nino terjadi maka fenomena pergerakan angin melemah dan membuat air hangat tertiup ke rimut.

    El Nino akan membuat curah hujan di Indonesia, India, dan Australia turun drastis. Sedangkan di Samudera Pasifik terjadi sebaliknya.

    Fenomena El Nino merupakan siklus yang terjadi tiga atau lima tahun, namun bisa juga sering terjadi. Terakhir El Nino terjadi pada 2019 selama enam bulan pada Februari hingga Agustus.




    Insight for you Techno for life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.