Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Ketahuan Pakai ChatGPT, Pria Ini Ditangkap di China
    Insight News

    Ketahuan Pakai ChatGPT, Pria Ini Ditangkap di China

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa10 Mei 2023Updated:10 Mei 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Pemerintah China menangkap seorang pria yang diduga menggunakan ChatGPT. Bukan tanpa alasan, pasalnya oknum tersebut diduga mengumpulkan dan membagikan berita palsu melalui layanan chatbot AI tersebut.

    Berita yang dimaksud memuat kabar soal tabrakan kereta yang menewaskan 9 orang, dikutip dari South China Morning Post, Rabu (10/5/2023).

    Kasus penangkapan ini adalah yang pertama kali di China terkait dengan penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Oknum dengan nama belakang Hong tersebut menulis artikel palsu dengan ChatGPT pada 25 April lalu. Artikel tersebut dibagikan ke lebih dari 20 akun Baijahao, yakni platform bergaya blog di bawah naungan raksasa teknologi Baidu.

    Sudah lebih dari 15.000 orang yang mengklik artikel tersebut, menurut laporan pihak berwajib. Sebagai informasi, ChatGPT sebenarnya tak bisa diakses resmi di China.

    Hong menggunakan VPN untuk menggunakan platform tersebut. Ternyata ini bukan kali pertama Hong membuat dan menyebar berita palsu. Dengan bantuan ChatGPT, ia kerap mengumpulkan berita-berita lama yang sudah tak relevan dan menulisnya kembali untuk memancing kontroversi.

    Dengan begitu, ia bisa menghasilkan cuan per klik. Hong mengaku metode cari uang lewat berita palsu ia pelajari dari seorang teman.

    Kepolisian setempat menangkap Hong atas tuduhan provokasi dan pemanfaatan teknologi untuk menyebar hoaks. Biasanya, tuduhan ini akan berujung hukuman penjara maksimal 5 tahun.

    Kasus ini seakan mengonfirmasi kekhawatiran banyak orang soal penerapan ChatGPT dan layanan chatbot serupa. Selain berisiko menggantikan pekerjaan manusia, layanan chatbot AI juga ditakutkan bisa menimbulkan masalah sosial karena mempermudah produksi hoaks.

    Untuk mencegah risiko tersebut, Presiden AS Joe Biden baru-baru ini memanggil beberapa bos raksasa teknologi untuk mendiskusikan risiko tersebut. Raksasa teknologi diminta untuk mengembangkan produk dengan lebih transparan, bertanggung jawab, dan aman.

    Biden bahkan menggelontorkan duit Rp 2 triliun untuk meluncurkan 7 lembaga penelitian AI baru di bawah National Science Foundation.



    Hitech for better life Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.