Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Krisis Ojol, Driver Bilang Aplikasi Arogan!
    Insight News

    Krisis Ojol, Driver Bilang Aplikasi Arogan!

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa31 Maret 2023Updated:31 Maret 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Profesi sebagai driver ojek online (ojol) sempat booming saat tahun-tahun pertama kemunculan aplikasi transportasi online seperti GoJek dan Grab. Pasalnya, dengan menjadi mitra, pengemudi bisa mengantongi pendapatan Rp 5-10 juta per bulan.

    Namun, kenyataannya kini sudah jauh berbeda. Aplikasi online terus melakukan pemotongan upah untuk mitra pengemudi. Pendapatan driver sepanjang 2016-2018 pun turun sampai 50%.

    Hal ini diungkap Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Daring Garda Indonesia Igun Wicaksono. Menurut dia, hal ini membuat banyak pengemudi akhirnya beralih profesi.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Jika tak ada perubahan dari pihak aplikasi, bukan tak mungkin krisis driver ojol akan terjadi. Igun meramalkan dalam 5 tahun ke depan, krisis pengemudi ojol bakal jadi kenyataan, terutama di kota-kota besar.

    Tarif Aplikasi Ojol Naik, Kok Pendapatan Driver Turun?

    Pada akhir tahun lalu, tarif ojol resmi dinaikkan. Hal ini berdasar pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 564 Tahun 2022 ditetapkan 4 Agustus 2022.

    Kendati begitu, mitra driver tak merasakan ‘cipratan’ penambahan pendapatan dari kenaikan tarif itu. Bahkan, pemotongan upah masih terjadi.

    Ketua Umum Asosiasi Driver Online (ADO) Taha Syafaril mengatakan pengguna ojol kerap berekspektasi layanan ojol meningkat berkait kenaikan tarif. Namun, itu tak bisa terjadi karena para driver empot-empotan kejar target dan tak dapat upah lebih.

    “Tapi mitra tidak bisa melakukan perbaikan layanan karena menerima pendapatan dari tarif yang makin kecil. Sangat banyak saingan dan harus menambah jam kerja,” kata dia saat dihubungi CNBC Indonesia, Jumat (31/3/2023).

    Aplikasi OjolĀ Arogan

    “Yang merusak sistem transportasi online adalah aplikasi sendiri. Dengan terus menambah biaya potongan tanpa peduli kesulitan mitra driver,” ia menambahkan.

    Jika nantinya krisis driver benar-benar terjadi, Taha mengatakan ini merupakan kesalahan para penyedia platform. Pasalnya, mereka cuma peduli persaingan bisnis tanpa memperhatikan nasib driver.

    “Menurut saya, aplikasi sendiri biang keladinya. Sejak meledaknya quota mitra driver, aplikasi jumawa dengan bisnisnya,” ia menuturkan.

    “Arogan sekali! Nggak heran kalau mitra driver banyak yang sudah nggak sanggup menjalankan profesinya,” pungkasnya.


    High Technology Insight for you
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.