Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Shopee PHK 3 Kali dalam 6 Bulan, Karyawan Tunggu Giliran
    Insight News

    Shopee PHK 3 Kali dalam 6 Bulan, Karyawan Tunggu Giliran

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa10 Maret 2023Updated:10 Maret 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, raksasa e-commerce Shopee sudah 3 kali melakukan PHK di Indonesia. Pertama kali pada September 2022 dengan jumlah terdampak sebanyak 3% dari total 6.000 karyawan.

    Hanya berselang 2 bulan, Shopee kembali memangkas karyawan pada November 2022. Jumlahnya tidak diketahui pasti, namun divisi yang kena mayoritas dari Sumber Daya Manusia (SDM) serta pembelajaran dan pengembangan.

    Sebelum 2 gelombang PHK tersebut, pemangkasan sudah lebih dulu dilakukan untuk unit pesan-antar makanan ShopeeFood pada Juni 2022.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Terakhir, Shopee mengumumkan PHK lagi pada Kamis (9/3) kemarin dengan jumlah terdampak yang juga dirahasiakan. Menurut desas-desus, tim yang kena berasal dari divisi operasional.

    “Shopee melakukan langkah penyesuaian sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi operasional,” kata juru bicara Shopee Indonesia, dalam keterangan resmi yang diterima CNBC Indonesia.

    Alasan efisiensi memang selalu menjadi dalih Shopee tiap kali memutuskan PHK. Bahkan, di pekan yang sama, Sea Limited sebagai induk usaha Shopee baru saja mengumumkan profit Rp 6,5 triliun.

    Karyawan Shopee Tak Kena PHK Merasa Terjebak

    Belum jelas sampai kapan gelombang PHK di Shopee akan berakhir. Pengumuman soal pemangkasan karyawan kerap dilakukan tiba-tiba via town hall dadakan yang kemudian disusul email resmi dari HRD.

    “Aman hari ini belum tentu aman besok sih,” kata salah satu karyawan Shopee yang enggan dicantumkan identitasnya, Jumat (10/3/2023).

    Ia mengaku pasrah menunggu giliran jika memang gelombang PHK Shopee masih terus berlanjut. Sekitar 4 tahun bekerja di Shopee, baru kali ini ia merasakan krisis sebesar ini.

    Ketika ditanya apakah ingin cari kerja lain, ia mengatakan masih memilih bertahan. Pasalnya, kondisi ekonomi yang belum stabil membuat bursa kerja di industri teknologi secara keseluruhan mandek.

    “Hehehe, nunggu kena saja baru dipikirin,” ujarnya.

    Hal serupa diungkap karyawan lain yang juga masih bertahan di Shopee dan berasal dari divisi berbeda. Ia mengakui iklim kerja di Shopee tak lagi sehat seperti sebelum terjadi krisis.

    “Di dalam berasa karyawan bukan lagi aset utama. Benefit banyak berkurang, penunjang kerja jadi nggak ada dukungan,” kata dia pada CNBC Indonesia.

    Kendati demikian, ia ogah mengundurkan diri karena kondisi di luar belum tentu lebih baik. Berdasarkan pengalaman rekan yang sudah kena PHK lebih dulu, mencari kerja baru akhir-akhir ini tak mudah, apalagi dengan standar kesejahteraan yang diberikan Shopee.

    “Di luar sana juga banyak kejadian layoff dan sepertinya bursa pelamar kerja jadi penuh. Kayanya lebih baik stay aja apapun yg terjadi di dalam,” ia menjelaskan.

    Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pilihan untuk tetap bertahan seakan jadi ‘mau tak mau’. Karyawan Shopee pun harus tetap fokus bekerja bagi kelangsungan perusahaan sembari bertanya-tanya soal nasib mereka ke depannya.

    “Sekarang pastinya tetap ada tuh pikiran ‘apakah kantor masih aman? Apa yg akan terjadi ke depannya? Gimana karir gue? Apalagi dengan umur segini’,” ia menuturkan.

    Melewati 3 kali gelombang PHK tentu bukan hal mudah, meski bagi karyawan yang kelihatannya masih ‘aman’ di dalam. Melihat rekan-rekan sejawat harus pergi duluan dan bertarung dengan perubahan yang tiba-tiba di dalam perusahaan cukup menguras emosi.

    “Pas gelombang pertama itu kami yang stay pastinya bersyukur, walau pastinya sedih ditinggal tim segitu banyaknya, dan pasti dampaknya linglung. Yang tadinya kerjaan segitu banyaknya dikerjain banyak orang, sekarang harus dikerjain dengan man power terbatas,” ia bercerita.

    “Nah di situ mulai ngerasa tuh ‘yg beruntung itu mereka yg kena layoff, atau kami yg stay sih?’. Kok kami malah tersiksa di dalam, mereka yg dapat pesangon dan akhirnya bisa memilih mau melanjutkan karirnya kayak gimana. Kami yang stay? Terjebak,” ia melanjutkan.

    Namun, menghadapi gelombang kedua dan ketiga, ia akhirnya terbiasa dengan kondisi yang tak biasa ini. Pada akhirnya, beberapa karyawan mengaku saat ini pilihan terbaik adalah tetap bertahan karena kondisi di manapun akan sama saja.


    High Technology Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.