Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Resesi Seks di Jepang Bukan karena Biaya Hidup, Tapi Hal Ini
    Inspiring You

    Resesi Seks di Jepang Bukan karena Biaya Hidup, Tapi Hal Ini

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman28 Februari 2023Updated:28 Februari 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Jepang sedang dilanda resesi seks. Hal tersebut ditandai dengan terus menurunnya angka kelahiran di Negeri Sakura karena masyarakatnya semakin enggan untuk berpasangan dan memiliki anak.

    Dilansir dari Mainichi, alasan sesungguhnya masyarakat Jepang ogah menikah adalah karena pada dasarnya orang Jepang tidak jago dalam hal asmara. Hal tersebut diungkapkan oleh seorang anggota fraksi Partai Liberal Demokrat, Narise Ishida.

    “Angka kelahiran menurun bukan karena biaya untuk memiliki anak,” ujar Ishida dalam sesi tanya jawab umum di majelis, dikutip Selasa (28/2/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Masalahnya, asmara dipandang sebagai hal yang tabu sebelum menikah,” lanjutnya mengungkapkan. Namun, Ishida tidak menyebutkan secara spesifik terkait apa yang dia maksud dengan “jago dalam urusan asmara.”

    Sebelumnya, Ishida meminta pemerintah prefektur untuk melakukan survei dan analisis kemampuan masyarakat dalam hal asmara. Selain itu, ia juga mengusulkan agar pemerintah prefektur memasukkan faktor tersebut dalam strategi untuk mencegah penurunan angka kelahiran.

    Berkaitan dengan hal ini, direktur departemen perencanaan strategis pemerintah prefektur, Akira Yasui mengatakan bahwa hal ini terkait dengan masalah yang sangat pribadi. Maka dari itu, pemerintah perlu memperdalam kesadaran tentang apa itu kemampuan asmara.

    “Dalam survei sebelumnya tentang sikap penduduk prefektur, beberapa memang memberikan jawaban terkait kemampuan asmara, termasuk ‘Saya tidak percaya diri,’ dan ‘Saya tidak bisa bergaul dengan lawan jenis,’ sebagai alasan,” ujar Yasui.

    Sebelumnya, dilansir dari Japan Times, Pemerintah Jepang mencatat total tingkat kesuburan di Jepang terus menurun selama bertahun-tahun. Pada 2005, statistik sempat pulih dari tingkat terendah melalui angka 1,26 pada 2005. Lalu, pada 2021 tingkat tersebut meningkat di angka 1,30. Namun, pada 2021 juga jumlah kelahiran bayi di Jepang mencapai titik terendah, yaitu 811.622.

    Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi masalah turunnya angka kelahiran di negaranya, mulai dari sosialisasi mengenai pentingnya membangun keluarga, menambah layanan penitipan anak, hingga mendorong work-life balance. Namun, yang paling tak biasa, pemerintah juga menyediakan layanan perjodohan untuk warganya.


    Artikel Selanjutnya


    Syarat Terbaru Perjalanan ke Jepang, Wajib Penuhi Ini

    (hsy/hsy)


    Smart your life Techno update
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    Video: Jurus Fintech Tekan Angka Kredit Macet

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.