Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Kredit Macet Pinjol Bikin Waswas, Asosiasi Fintech Buka Suara
    Insight News

    Kredit Macet Pinjol Bikin Waswas, Asosiasi Fintech Buka Suara

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa13 Desember 2022Updated:13 Desember 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Kredit macet di pinjaman online (pinjol) mengalami peningkatan. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menjelaskan penyebab penurunan kinerja fintech lending.

    Rina Apriana, Ketua Cluster Multiguna AFPI yang juga CEO Maucash, menjelaskan kondisi global dan pandemi bisa jadi alasan pinjaman macet. Kedua masalah tersebut mempengaruhi kenaikan suku bunga dan harga BBM dan berdampak pada keuangan peminjam.

    “Pinjaman macet bisa terjadi dari sejumlah faktor, tak terkecuali akibat kondisi global dan pandemi yang memengaruhi kenaikan suku bunga dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berdampak pada kondisi keuangan peminjam dana [borrower],” jelas Rina dalam keterangan yang diterima CNBC Indonesia, Selasa (13/12/2022).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Tak sedikit customer atau peminjam terdampak ekonomi sehingga gagal bayar di cicilan selanjutnya, sebetulnya pada saat akuisisi awal kondisi customer masih baik”.

    Selain itu, ada juga karena proses restrukturisasi pinjaman tidak berjalan optimal. Rina menjelaskan hal tersebut akibat persetujuan berada di tangan penyedia dana [lender].

    Alasan lainnya adalah tidak bisa melakukan optimalisasi penagihan karena pinjol tidak mengambil jaminan dari peminjam

    “Proses restrukturisasi pinjaman tidak berjalan optimal karena persetujuan ada di pihak lender…Optimalisasi penagihan tidak dapat dilakukan karena tidak ada collateral,” kata Rina.

    Terakhir, data bad customer tidak terintegrasi dengan SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) sehingga tidak ada efek jera. Sebagai informasi, SLIK yang dulu dikenal sebagai BI Checking menyediakan informasi terkait debitur.

    Rina menambahkan AFPI tengah melakukan analisis studi internal soal apakah beberapa platform dengan kredit macet tinggi punya pengaruh kepada industri secara keseluruhan atau tidak. Jika sudah ada hasilnya, asosiasi akan memberikan masukan kepada penyelenggara.

    “AFPI pun melakukan kajian berbekal akumulasi data dari infrastruktur fintech data center (FDC). Proses ini telah berjalan sejak beberapa hari belakangan. Tujuannya, melihat apakah bayang-bayang kredit macet merupakan kesalahan platform itu sendiri, atau adanya segmen peminjam di industri tertentu yang harus diwaspadai. Hasilnya nanti, AFPI akan memberikan masukan kepada para penyelenggara. Misalnya, apakah harus ada risk acceptance yang lebih ketat, atau memang harus ada restrukturisasi terhadap borrower tertentu,” jelas Rina.

    Sebelumnya tercatat kredit macet mencapai Rp 1,49 triliun per September 2022 atau naik 9,55 dari bulan sebelumnya. Namun sempat menurun pada Oktober Rp 1,42 triliun dengan TWP90 sebesar 2,9% dibandingkan September 3,07%.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Bukan Abal-abal, Daftar Terbaru Pinjol Cepat Cair Resmi OJK

    (npb)


    Innovation Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.