Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»‘Kiamat’ di Mana-mana, Saat Kehancuran Bumi Makin Dekat?
    Insight News

    ‘Kiamat’ di Mana-mana, Saat Kehancuran Bumi Makin Dekat?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa17 November 2022Updated:17 November 2022Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Penghuni Bumi sudah masuk 8 miliar orang. Ternyata jumlah penduduk dunia yang makin banyak dan padat ini mengakibatkan banyak bahaya untuk populasi di masa depan.

    Dekan Sekolah Kesehatan Masyarakat, Universitas Pittsburgh Maureen Lichtveld mengatakan seluruh risiko memiliki tiga kesamaan. Dari kesehatan, perubahan iklim, serta pertumbuhan populasi dengan jumlah yang semakin banyak.

    Ini empat hal yang dikhawatirkan terjadi karena banyaknya jumlah manusia di Bumi, dirangkum dari The Conversation, Kamis (17/11/2022):


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    1. Penyakit menular




    Foto: Seorang pekerja sanitasi melewati persimpangan di tengah tindakan penguncian untuk mengekang wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Sanya, provinsi Hainan, China, Sabtu (6/8/2022). (cnsphoto via REUTERS)

    Menurut para peneliti, lebih dari setengah penyakit menular akan diperburuk oleh perubahan iklim. Salah satunya banjir yang akan mempengaruhi kualitas air serta habitat, yakni saat bakteri dan vektor berbahaya seperti nyamuk dapat berkembang biak dan menularkan penyakit menular kepada manusia.

    Selain itu, banjir dapat menyebarkan organisme yang terbawa air menyebabkan hepatitis serta diare seperti kolera. Khususnya adalah saat sejumlah besar orang mengungsi akibat bencana dan tinggal dengan kualitas air buruk untuk dikonsumsi maupun cuci.

    Masalah kekeringan bisa juga menurunkan kualitas air minum. Sementara itu banyaknya populasi hewan pengerat yang masuk ke komunitas manusia mencari makanan membuat adanya peningkatan potensi penyebaran hantavirus.

    2. Kenaikan suhu




    People cool off in the Trocadero fountains across from the Eiffel Tower in Paris as a new heatwave broke temperature records in France, July 25, 2019. REUTERS/Pascal RossignolFoto: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa (REUTERS/Pascal Rossignol)

    Panas berlebihan bisa memperburuk masalah kesehatan yang ada. Misalnya kardiovaskular serta pernapasan, serta heat stress menjadi heat stroke dan merusak jantung, otak dan ginjal, yang pada akhirnya mematikan.

    Setiap tahunnya, ada 30% populasi global terpapar tekanan panas dan memiliki potensi mematikan. Panel antarpemerintah Perubahan Iklim telah memperkirakan masalah ini akan meningkat menjadi setidaknya 48% dan setinggi 76% pada akhir abad.

    Paparan panas juga mengakibatkan 470 miliar jam kerja hilang secara global pada tahun 2021. Hal ini membuat kerugian pendapatan terkait yang berjumlah hingga US$669 miliar.

    Selain itu populasi yang terus tumbuh dan peningkatan panas membuat orang akan menggunakan AC yang ditenagai oleh bahan bakar fosil, yang pada akhirnya membuat perubahan iklim.

    3. Ketahanan pangan dan air




    Antrian Sembako Murah di Rusun (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Antrian Sembako Murah di Rusun (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

    Banyaknya populasi juga membuat panas mempengaruhi ketahanan pangan serta air. Lancet menemukan suhu tinggi tahun lalu membuat musim tanam lebih pendek yakni 9,3 hari bagi jagung serta enam hari untuk gandum dibandingkan rata-rata 1981-2020.

    Pemanasan laut juga membunuh kerang serta mengalihkan perikanan yang diandalkan masyarakat pesisir. Gelombang panas tahun 2020 mengakibatkan 98 juta lebih banyak orang menghadapi masalah pangan dibandingkan dengan periode 1981-2010.

    Suhu yang naik dapat membuat pasokan air tawar lewat penguapan dan dengan menyusutnya gletser gunung dan tumpukan salju. Ini akan membuat air tetap mengalir selama bulan-bulan musim panas.

    Tahun 2030 mendatang, PBB memperkirakan kelangkaan air dan kekeringan berpotensi menggusur hampir 700 juta orang. Dikombinasikan dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan kebutuhan energi, masalah lainnya adalah adanya konflik geopolitik, sebab negara-negara menghadapi kekurangan pangan dan bersaing untuk mendapatkan air.

    4. Kualitas udara




    Kemacetan panjang terjadi di Pondok Indah arah Fatmawati, Jakarta Selatan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Kemacetan panjang terjadi di Pondok Indah arah Fatmawati, Jakarta Selatan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

    Masalah polusi udara bisa diperburuk oleh pemicu perubahan iklim. Cuaca panas dan gas bahan bakar fosil akan mempengaruhi ozon di permukaan tanah, komponen utama kabut asap. Pada akhirnya akan memperburuk alergi, asma dan masalah pernapasan lainnya, serta penyakit kardiovaskular.

    Masalah kebakaran hutan yang dipicu oleh lanskap yang panas dan kering akan menambah risiko kesehatan polusi udara. Asap kebakaran sarat dengan partikel kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, menyebabkan masalah jantung dan pernapasan.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Horor! Ancaman Selain Covid-19 Bikin Bumi Terus Meredup Nih


    Mind your business Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.