Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Kala Sri Mulyani Kutip Farel: Ojo Dibanding-bandingke
    Insight News

    Kala Sri Mulyani Kutip Farel: Ojo Dibanding-bandingke

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa30 Agustus 2022Updated:4 September 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim pemulihan ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja yang baik dibandingkan dengan negara-negara lain.

    Menurutnya, kinerja pemulihan ekonomi Indonesia termasuk dalam kategori terbaik di antara negara G20 dan Asean.

    Dia pun memberikan perbandingan pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal hingga rasio utang RI dengan negara-negara G20 dan Asean.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Perbandingkan ini untuk memberikan sense. Walaupun kalau menurut Farel ‘ojo banding-bandingke’. Tapi melakukan ini sebagai bagian untuk memahami konteks respons policy dari sisi fiskal, moneter, dan struktural di dalam menavigasi situasi yang sungguh tidak biasa, extraordinary, 2 atau 3 tahun terakhir dan bahkan ke depan. ini spirit yang ingin terus kami tekankan di dalam APBN 2023 dengan banggar,” papar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (30/8/2022).

    Pada 2021, tepatnya tahun kedua pandemi, ekonomi Indonesia berhasil melewati krisis dengan PDB riil mencapai 1,6% dibandingkan tahun 2019. Bahkan, tahun 2022, PDB riil Indonesia mencapai 7,1% di atas pra-pandemi level pada 2019.

    Sri Mulyani menambahkan masih banyak negara-negara yang belum kembali ke level PDB pada masa pra-pandemi, salah satunya Italia, Argentina, Jerman, Meksiko, Thailand, Belanda dan Jepang.

    Kemudian, negara-negara yang sudah pulih sekalipun masih banyak yang PDB riilnya masih dikisaran 1%.

    “Indonesia sudah 7,1%, hanya di atas kita China dan India,” ungkapnya.

    Terkait dengan indeks harga konsumen (IHK), dia menilai inflasi Indonesia yang mencapai 4,9% pada Juli 2022 dikategorikan lebih baik dari negara lain di Asean dan G20. Di sisi fiskal, Sri Mulyani menilai instrumen fiskal Indonesia relatif moderat.

    Pasalnya, akumulasi defisit fiskal pada 2020 hingga 2021 hanya mencapai 10,7%. Sementara itu, Kanada, Prancis, Australia dan China berada di atas 15%.

    Adapun, Inggris dan India mencapai masing-masing 23,1% dan 24,7%. “Indonesia hanya menggunakan 10% defisit fiskal 10,7% untuk kembali ke pre-covid di 7,1%. Ini menunjukkan bahwa kita hati-hati menggunakan instrumen fiskal kita,” tegasnya.

    Mengenai rasio utang, Sri Mulyani mengungkapkan rasio utang termasuk Indonesia paling rendah di antara negara G20 dan Asean.

    “Kalau kita lihat rasio 40,7% skrg sudah terkoreksi di 37%,” ujarnya.

    Sri Mulyani mengklaim penurunan ini didorong pengendalian pembiayaan utang seiring dengan makin baiknya kinerja APBN. Bahkan, ketika 106 negara mendapatkan peringkat kredit dengan outlook negatif, peringkat utang Indonesia justru mengalami upgrade atau afirmasi dari Fitch, R&I dan Moody’s.


    Artikel Selanjutnya


    Sri Mulyani Ungkap ‘Kiamat’ Teller Bank, Bakal Ada Badai PHK?

    (haa/haa)


    Innovation Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.