Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Usai Dapat ‘Duit’ Jumbo, Deretan Startup Ini Malah Bangkrut
    Insight News

    Usai Dapat ‘Duit’ Jumbo, Deretan Startup Ini Malah Bangkrut

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa19 Agustus 2022Updated:21 Agustus 2022Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Modal yang besar tidak menjamin keberhasilan sebuah perusahaan rintisan. Beberapa startup global justru gagal dan tutup setelah menerima pendanaan triliunan rupiah.

    Tidak sedikit di antara perusahaan-perusahaan ini yang terpaksa harus mengambil langkah pemutusan hubungan kerja atau PKH karyawan secara besar-besaran.

    Tidak cuma PHK, sejumlah perusahaan memilih untuk melakukan pembekuan perekrutan karyawan baru, bahkan sampai bangkrut.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Ada banyak alasan perusahaan akhirnya bangkrut. Namun benang merahnya adalah ketidakmampuan menghasilkan pendapatan, kecocokan produk dengan pasar produk, kalah saing, serta kehabisan uang.

    Berikut ini lima startup yang terpaksa gulung tikar dengan nilai fantastis:

    1. Solyndra




    Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

    Investor Kenamaan: Redpoint Ventures, US Venture Partners
    Total dana yang diungkapkan: US$1,22 miliar (Rp 17,8 triliun).

    Solyndra harus menghadapi persaingan sengit dengan perusahaan tenaga surya konvensional seperti Suntech Power Holding Co Ltd dari China dan First Solar Inc berbasis di Amerika Serikat (AS).

    Startup itu berjuang mencetak keuntungan dan sedang mengevaluasi opsi-opsi lain. Misalnya menjual bisnis dan melinsensikan teknologi tembaga indium gall selenide (GICS).

    2. Jawbone

    Investor kenamaan: Khosla Ventures, Sequoia Capital, Kleiner Perkins Caufield & Byers

    Total dana yang diungkapkan: US$929,9 juta (Rp 13,018 triliun)

    Jawbone merupakan startup yang membuat perangkat wearable. Perusahaan mengumumkan bangkrut pada Juli 2017 setelah berdiri 17 tahun.

    Perusahaan itu gagal mempertahankan pangsa pasar untuk produk headset, pelacak kebugaran, dan speaker nirkabel. Kebangkrutan itu jadi salah satu kegagalan yang tercatat dalam sejarah.

    3. Abound Solar

    Investor VC kenamaan: Ventures DCM, Venture Energi Alternatif BP
    Total dana yang diungkapkan: US$614 juta (Rp 8,6 triliun)

    Abound Solar mengantongi US$614 juta total dana saat masuk tahun 2012. CB Insight mencatat kegagalan perusahaan jadi yang termahal.

    Perusahaan merupakan produsen modul fotovoltaik film ipis cadium telluride untuk panel surya. Abound Solar juga diketahui didukung lembaga pemerintah Amerika Serikat (AS) seperti Departemen Pertahanan dan hibah dari Departemen Energi.

    4. Theranos




    FILE PHOTO:    Elizabeth Holmes, founder and CEO of Theranos, speaks at the Wall Street Journal Digital Live (WSJDLive) conference at the Montage hotel in Laguna Beach, California, October 21, 2015. REUTERS/Mike Blake/File PhotoFoto: REUTERS/Mike Blake

    Investor VC kenamaan: BlueCross BlueShield Venture Partners, Rupert Murdoch, Walgreens
    Total dana yang diungkapkan: US$500 juta (Rp 7 triliun)

    Theranos didirikan dan menjadi startup yang menemukan cara baru tes darah dengan tusukan kecil pada satu jari. Ini dilakukan untuk mendeteksi berbagai penyakit.

    Namun Theranos akhirnya tutup dan telah menyurati pemegang sahamnya. “Kami sekarang kehabisan waktu,” tulis David Taylor, kepala eksekutif perusahaan dan penasihat umum. Namun dia enggan berkomentar lebih lanjut dan mengatakan surat itu sudah jelas.

    5. Optik ReVision

    Investor VC kenamaan: Mitra InterWest, Mitra Canaan, Mitra Domain, Investasi ProQuest
    Total dana yang diungkapkan: US$172 juta (Rp 2,408 triliun)

    ReVision mengembangkan alat kornea implan. Yakni bertujuan untuk mengobati presbiopia, kondisi penglihatan yang mengakibatkan hilangnya kemampuan mata untuk fokus pada obyek terdekatnya.

    Presiden dan CEO John Kilcoyne menyebut bisnisnya sangat menantang. Untuk alasan penutupan perusahaan, dia hanya mengatakan “tidak bisa membuat bisnis tumbuh cukup cepat”. Perusahaan juga membutuhkan modal lebih banyak agar mencapai arus kas positif dan dilaporkan investor enggan memberikan lebih banyak uang.


    Artikel Selanjutnya


    Kisah Startup yang Gulung Tikar Walau Modal Triliunan

    (dem)


    Mind your business Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.