Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Masa Keemasan Startup Meredup, Founder Bisa Coba Lakukan Ini
    Insight News

    Masa Keemasan Startup Meredup, Founder Bisa Coba Lakukan Ini

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa12 Agustus 2022Updated:13 Agustus 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Masa keemasan startup di Indonesia disebut telah meredup. Para founder diminta untuk tidak lagi berharap adanya suntikan modal baru ke perusahaan yang dimilikinya.

    Ini diungkap oleh pengusaha Hary Tanoesoedibjo dalam akun Instagram yang diunggah belum lama ini. Dia menuliskan, “The golden days of startup are already over (hari keemasan startup telah berakhir)” dan juga menyoroti ketergantungan startup pada dana investor.

    Dalam hal ini, modal akan dihabiskan untuk promosi dan pemasaran menggaet pengguna. Kegiatan ini dikenal sebagai “bakar uang”.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Namun dia menekankan, bisnis tak bisa selalu mengharapkan adanya suntikan modal baru secara terus menerus. Subsidi konsumen tersebut merupakan cara meningkatkan penguasaan pasar.

    Sebagai informasi dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah startup diketahui mengeluarkan kebijakan untuk memberhentikan banyak karyawannya atau PHK. 

    Dalam Profit CNBC Indonesia bulan Mei lalu, Eddi Danusaputro yang sekarang menjabat CEO BNI Modal Ventura, menilai valuasi startup terlalu berlebihan. “Bubble dari sisi apa? dari sisi valuation, saya enggak mau menyebut bubble burst atau apalah itu, tapi lebih kepada dari kacamata kami para investor,” ujarnya.




    Foto: Modal Ventura: Demi Efisiensi, Startup Harus Kurangi “Bakar Uang” (CNBC Indonesia TV)

    Eddi mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, valuasi memang terlalu tinggi. Namun ini mengalami penurunan tajam. Dengan adanya pengetatan likuiditas, justru membuat valuasi startup lebih masuk akal.

    “Karena buat kami, para investor terutama yang punya dana nganggur, punya ready cash, berarti kami bisa investasi ke perusahaan yang valuasinya lebih masuk akal, dan untuk long term itu lebih sehat untuk startup nya,” kata Eddi.

    Sekarang yang dibutuhkan bukan seberapa lagi besar valuasi. Namun value yang dimiliki startup itu sendiri, ungkapnya. Saat valuasi menjadi tujuan utama, semua startup berlomba menjadi unicorn padahal profit seharusnya menjadi fokus utama perusahaan.

    [Dexpert.co.id]


    Artikel Selanjutnya


    Tak Cuma di Silicon Valley, Startup RI Pernah PHK Pegawai


    High Technology Teknologi Informasi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.