Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Insight News»Penambangan Bitcoin Marak di China, Tak Patuh ke Xi Jinping?
    Insight News

    Penambangan Bitcoin Marak di China, Tak Patuh ke Xi Jinping?

    Ardhian ValqaBy Ardhian Valqa19 Mei 2022Updated:20 Mei 2022Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Pemerintahan Xi Jinping melarang aktivitas penambangan (mining) Bitcoin pada Juli 2021. Namun aturan ini tampaknya tak dipatuhi. Pasalnya, aktivitas itu kembali marak di China.

    China pernah menjadi pusat penambangan kripto terbesar di dunia. Hash rate (kekuatan pemprosesan) sempat menyentuh 65-75%. Tapi sejak dilarang dan diambil tindakan tegas oleh China tingkat hash rate kripto jatuh menjadi nol.

    Sekarang, penelitian baru dari Cambridge Center for Alternative Finance menunjukkan aktivitas penambangan bitcoin China telah pulih dengan cepat. Pada September 2021, China hanya menguasai 22% dari total pasar penambangan bitcoin, menurut data dari para peneliti Cambridge.

    Ini berarti China sekali lagi menjadi pemain global teratas dalam penambangan bitcoin, kedua terbesar setelah AS, seperti dihimpun dari CNBC International, Kamis (19/5/2022).

    Ada satu peringatan: Metodologi penelitian bergantung pada geolokasi agregat dari penambangan bitcoin besar – yang menggabungkan sumber daya komputasi untuk menambang token baru secara lebih efektif – untuk menentukan di mana aktivitas terkonsentrasi di berbagai negara.

    Pendekatan ini mungkin rentan terhadap “kebingungan yang disengaja” oleh beberapa penambang bitcoin yang menggunakan virtual private network (VPN) untuk menyembunyikan lokasi mereka, kata para peneliti.

    VPN memungkinkan pengguna untuk merutekan lalu lintas mereka melalui server di negara lain, menjadikannya alat yang berguna bagi orang-orang di negara-negara seperti China, di mana penggunaan internet sangat dibatasi.

    Namun demikian, mereka menambahkan batasan ini akan “hanya berdampak sedang” pada keakuratan analisis.

    Innovation Tekonogi terkini
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ardhian Valqa

    Related Posts

    Ramai-Ramai Perusahaan Getol Pakai AI, Tak Peduli Anggarannya Meledak

    25 Januari 2025

    Kejadian Langka Parade Planet, 2 Zodiak Ini Mohon Waspada

    25 Januari 2025

    Kanguru Raksasa Punah Bikin Penasaran, Begini Temuan Terbaru Para Ahli

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.