Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Asal Usul Istilah ‘Jin Buang Anak’, Begini Makna Aslinya
    Inspiring You

    Asal Usul Istilah ‘Jin Buang Anak’, Begini Makna Aslinya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman3 Oktober 2024Updated:3 Oktober 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    JakartaDexpert.co.id – Masyarakat Indonesia lazim menggunakan istilah ‘jin buang anak’ untuk merujuk tempat-tempat sepi yang tak dihuni manusia. Di Jakarta, misalkan, sebutan ini lazim untuk menyebut tempat tak berpenghuni yang biasanya hanya ada perkebunan, seperti kebun karet dan kelapa.

    Lantas sejak kapan istilah ini muncul dan kenapa harus diasosiasikan dengan jin?

    Diduga kuat istilah ‘tempat jin buang anak’ pertama kali muncul di Jakarta pada 1960-an. Hal ini ramai dipakai para saksi sejarah di berbagai literatur untuk merujuk tempat-tempat yang masih sepi. 

    Sebut saja seperti pengusaha Ciputra dalam otobiografinya berjudul Ciputra: The Entrepreneuer (2019). Saat menggarap wilayah Pondok Indah, Kemang, Bintaro, Serpong, dan Kalideres, dia menyebut semua wilayah itu dengan ‘tempat jin buang anak’. 

    Budayawan Betawi, Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi (2004) dan Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2002), juga menyebut hal sama. Dia menyebut Kemang, Kebayoran, dan Kuningan sebagai ‘tempat jin buang anak’. 

    Penggunaan istilah demikian dipakai untuk merujuk kawasan yang tak dihuni orang, hanya ada perkebunan, dan Sunyi. Kondisi ini jelas berbanding terbalik dengan hiruk-pikuk perkotaan Jakarta, seperti di kawasan Senayan dan Menteng yang tak pernah sepi sekalipun malam hari.

    Atas dasar ini, minimnya orang di kawasan sepi diasosiasikan lebih lanjut dengan keberadaan hantu. Maka ditambahkan embel-embel ‘jin’. Masyarakat Betawi memang lekat dengan keberadaan jin. Mereka yakin manusia bisa berhubungan dengan jin.

    Jin juga dianggap sebagai sosok hantu pemilik kekuatan nyata yang bisa dimanfaatkan, seperti menjaga sawah, rumah, keluarga, diri sendiri, dan properti lainnya. Mereka juga percaya adanya jin baik dan jahat yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. 

    Budayawan Ridwan Saidi pernah mengungkap masyarakat Betawi terkadang kerap menganggu jin. Caranya dengan mengambil air dari sumur tua. Dipercaya, sumur tua kerap jadi hunian jin, sehingga ketika airnya diambil maka jin akan hilang. Kebudayaan populer Betawi juga kerap melibatkan cerita terkait sosok jin, sebut saja seperti pertunjukan lenong. 

    Kendati demiian, istilah ‘tempat jin buang anak’ hanya menjadi cerita. Sebab, semua wilayah di Jakarta tak ada lagi yang tak berpenghuni. Alias semuanya sudah berubah. Dari semula desa dan kebun karet menjadi kota metropolitan.

    Kawasan Pondok Indah, Bintaro, Serpong, Kebayoran, hingga Ancol akhirnya sukses disulap para pengembang properti menjadi kawasan elit, tempat hunian orang kaya, pusat keuangan dan gemerlap hiburan perkotaan. 

    (mfa/mfa)

    Saksikan video di bawah ini:

    Video: Parle Resto & Cafe, Level up Experience Kuliner Indonesia!




    Next Article



    Ahok: Tinggal di Jakarta Gak Cukup Gaji Rp5 Juta, Segini Idealnya!



    Smart your life True Success
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.