Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Heboh Kasus Bayi Meninggal Usai Imunisasi, Ini Kata Kemenkes
    Inspiring You

    Heboh Kasus Bayi Meninggal Usai Imunisasi, Ini Kata Kemenkes

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman2 Juli 2024Updated:2 Juli 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Jakarta, Dexpert.co.id – Baru-baru ini, kasus bayi yang meninggal dunia usai menerima imunisasi menjadi topik hangat di kalangan para orang tua. Bayi berinisial MKA berusia 2 bulan 28 hari itu awalnya diberikan imunisasi ganda untuk melengkapi status imunisasinya yang belum didapatkan. Sayangnya, bayi asal Sukabumi, Jawa Barat itu meninggal dunia beberapa jam setelah mendapatkan imunisasi dengan 4 jenis vaksin.

    Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, bayi laki-laki itu mendapatkan imunisasi vaksin Bacille Calmette-Guerin (BCG) untuk penyakit tuberkulosis (TB), Difteri-Pertusis-Tetanus-Hepatitis B-Haemophilus Influenzae Type B (DPT-HB-Hib), Polio tetes dan Rotavirus untuk pencegahan diare.

    Kronologi bayi meninggal usai imunisasi

    Terkait insiden ini, Komite Daerah (Komda) KIPI Jawa Barat dan Pokja KIPI Kota Sukabumi bersama Dinas Kesehatan Kota Sukabumi mengatakan bahwa bayi tersebut lahir dengan bantuan bidan. Dia sudah mendapatkan vitamin K juga vaksin hepatitis B.

    Meski begitu, setelah lahir bayi MKA ini tidak pernah dibawa ke puskesmas lagi dan baru kembali dibawa oleh orangtuanya saat berusia 2 bulan 28 hari ke Posyandu untuk mendapatkan imunisasi.

    Imunisasi yang diberikan tenaga kesehatan terhadap bayi MKA ini merupakan imunisasi ganda, yaitu pemberian vaksin lebih dari satu jenis vaksin dalam sekali kunjungan.

    Pemberian imunisasi dengan 4 jenis vaksin (BCG, DPT-HB-Hib, Polio, Rotavirus) untuk melengkapi status imunisasinya dan mengejar imunisasi yang belum didapatkan.

    Pada saat di Posyandu, ada 18 anak yang mendapatkan imunisasi pada hari tersebut dan ada 3 anak yang mendapatkan 4 jenis vaksin sama seperti almarhum bayi MKA, dan kondisinya saat ini sehat.

    Setelah menerima imunisasi, bayi MKA pulang ke rumah. Pada waktu itu, kondisi bayi normal lalu tak berapa lama menunjukkan gejala tubuh yang melemah.

    Melihat kondisi sang anak tidak normal, orangtua bayi pun langsung menghubungi Puskesmas. Petugas kesehatan pun langsung datang ke rumah Bayi MKA, dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lanjutan.

    “Pertolongan pertama diberikan karena petugas imunisasi langsung datang ke rumah almarhum dan membawa ke rumah sakit untuk memberikan pertolongan lanjutan,” kata Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, dr, SpAK, MM, Ketua Komda KIPI Jawa Barat.

    Sayangnya, sesampainya di rumah sakit, nyawa bayi MKA tidak bisa terselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa meninggalnya bayi ini dilaporkan terjadi pada 11 Juni 2024.

    Data audit Komnas KIPI

    Menyikapi laporan kematian bayi MKA yang dikaitkan dengan imunisasi ganda, Komda KIPI Jawa Barat dan Komnas KIPI melakukan audit kejadian. Berdasarkan audit dari informasi yang ada, belum dapat dinyatakan penyebab kematian, apakah ada hubungan dengan imunisasi atau tidak.

    Rekomendasi terkait kasus tersebut adalah melakukan autopsi. Namun pihak keluarga almarhum bayi MKA tidak berkenan untuk dilakukan. Ini menyusul pihak keluarga yang juga mencabut tuntutan polisi dan kuasa hukum.

    “Keluarga tidak berkenan untuk dilakukan autopsi dan mencabut tuntutan polisi dan kuasa hukum. Pihak keluarga menyatakan menerima kematian almarhum Bayi MKA,” ungkap Prof Hindra.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI pun sudah mengambil sampel vaksin yang disuntikkan kepada almarhum Bayi MKA. Pengambilan sampel vaksin dilakukan untuk menilai kualitas vaksin.

    “BPOM juga mengambil sampel vaksin-vaksin yang diberikan kepada almarhum Bayi MKA. Sampel ini untuk dilakukan uji kualitas. Jadi, sedang dilakukan uji kualitas,” papar Hindra.

    Saksikan video di bawah ini:

    Pejuang Eksim, Istri Legenda Bulutangkis Ini Ciptakan Skincare Natural





    Next Article



    Jangan Kaget, Kurir Barang Bisa Juga Antar Bayi & Anak-Anak, Tapi…



    (hsy/hsy)

    Inspirasi Sukses True Success
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.