Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Bahan Baku Obat Impor, Masalah Bertahun-tahun yang tak Kunjung Selesai
    Inspiring You

    Bahan Baku Obat Impor, Masalah Bertahun-tahun yang tak Kunjung Selesai

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman24 Juni 2024Updated:25 Juni 2024Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengaku bahwa bahan baku obat (BBO) Indonesia yang sebagian besar merupakan impor adalah masalah bertahun-tahun yang masih belum terselesaikan.

    Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI (Dirjen Farmalkes), Dr. Rizka Andalusia mengatakan bahwa salah satu masalah besar farmasi Indonesia yang belum kunjung terselesaikan selama bertahun-tahun adalah BBO yang masih berasal dari luar negeri (impor) alias belum dapat diproduksi di dalam negeri.

    Rizka mengatakan, kecenderungan Indonesia yang mengimpor BBO menjadi penyebab industri BBO di Indonesia tidak dapat berkembang.

    “Inilah yang bertahun-tahun belum terselesaikan. Akibatnya, industri bahan baku obat di Indonesia tidak bisa berkembang,” tegas Rizka dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR RI di Gedung Nusantara I, Jakarta, Senin (24/6/2024).

    Guna mengatasi masalah dalam kefarmasian di Indonesia tersebut, Rizka menyebut bahwa Kemenkes RI akan melakukan tindak lanjut, yakni memberikan fasilitas berupa change source atau memprioritaskan produk lokal dalam hal BBO.

    “Sehingga produsen bahan baku obat dalam negeri ini juga akan meningkat dan tentunya akan menambah jumlah-jumlah bahan baku yang diproduksi terus,” sambungnya.

    Menurut Rizka, produksi BBO di Indonesia tidak hanya sekadar memproduksi obat, tetapi juga meneliti dan mengembangkan sesuai dengan kebutuhan di dalam negeri. Ia mengatakan, industri farmasi harus memahami bagaimana agar BBO mencapai nilai ekonomis.

    “Hal yang paling penting adalah bagaimana pemanfaatan bahan baku obat tersebut di pasar industri farmasi agar supaya nilai ekonomis dari bahan baku yang diproduksi di Indonesia tercapai,” ujar Rizka.

    Lebih lanjut, Rizka mengatakan bahwa hingga saat ini Kemenkes RI telah memfasilitasi change source terhadap 42 industri farmasi. Adapun, beberapa jenis obat yang sudah mulai dilakukan change source adalah atorvastatin, clopidogrel, amlodipin, candesartan, azitromisin, dan bisoprov.

    “Ada beberapa produk yang sudah melakukan penggantian, misalnya atorvastatin. Ada enam industri farmasi yang sudah melakukan penggantian BBO dan tiga di antaranya sudah mendapatkan izin edar untuk produknya menggunakan BBO dalam negeri,” jelas Rizka.

    “Saat ini sudah total 42 industri farmasi yang difasilitasi change source tersebut dan beberapa produk tentunya untuk beberapa bahan baku, seperti atorvastatin, clopidogrel, amlodipine, candesartan, azithromycin, dan bisoprolol,” sambungnya.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan bahwa sebanyak 90 persen BBO di Indonesia masih diimpor dari luar negeri. Selain itu, sebanyak 52 persen alat kesehatan (alkes) di Indonesia masih merupakan produk impor alias tidak diproduksi di dalam negeri.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT



    Artikel Selanjutnya


    Kemenkes Lapor DPR, Masih ada Stok Vaksin Covid-19 5,22 Juta Dosis

    (Sumber: CNBC.com )


    Ide Sukses Inspirasi Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.