Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Mengenal Tradisi Tudhong Jelang Hari Waisak & Pantangannya
    Inspiring You

    Mengenal Tradisi Tudhong Jelang Hari Waisak & Pantangannya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman15 Mei 2024Updated:15 Mei 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Sebanyak 44 Bhikkhu (Biksu) akan melaksanakan ritual Thudong dalam rangka merayakan Hari Raya Tri Suci Waisak 2568 BE. Perjalanan akan diawali dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

    Thudong adalah perjalanan religi yang dilakukan untuk mengikuti jejak Sang Buddha pada zaman kehidupannya, yakni saat belum ada wihara, tempat tinggal, dan transportasi.

    Tahun ini, para biksu menjalankan ritual keagamaan tersebut dengan berjalan kaki dari Semarang hingga Candi Borobudur. Pelaksanaan Thudong pada tahun ini diikuti para Bhikku yang berasal dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. 


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT




    Foto: CNBC Indonesia/Rindi Salsabila
    Sebanyak 40 Bhikkhu (biksu) asal Thailand, Malaysia, Singapura, dan Thailand resmi dilepas dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Cipayung, Jakarta Timur, untuk melaksanakan ritual Thudong dalam rangka merayakan Hari Raya Tri Suci Waisak 2568 BE di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (14/5/2024). (CNBC Indonesia/Rindi Salsabila)

    “Mulai jalan kaki dari Semarang. Dari Taman Mini ke Semarang naik bus. Setelah dari Candi Borobudur mereka akan langsung terbang ke Jambi,” kata Wakil Ketua Panitia Nasional Waisak, YM Bhikkhu Dhammavuddho Thera, Selasa (14/5/2024).

    “Namun nanti di Jambi kita akan kemas dengan Waisak Festival. Mereka akan berjalan dari rumah Gubernur, kemudian ke satu Wihara, dan di sana kita akan mendapatkan sambutan dari masyarakat,” jelasnya terkait rencana perjalanan di Jambi.

    Tujuan dan pantangan ritual Thudong

    Melalui perjalanan Thudong, para Bhikkhu melatih kesabaran dan mengikhlaskan. Dalam ajarannya, Sang Buddha menyebutkan bahwa kesabaran adalah praktik dhamma tertinggi. Dhamma adalah ajaran mulia yang berisi pedoman moral dan filsafat yang menuntun manusia menuju kebahagiaan.

    “Jadi, tujuannya adalah untuk makna pelepasan dan juga berlatih kesabaran karena di dalam Buddha, kebahagiaan itu kita capai dari hati sendiri, bukan dari luar,” jelas Bhante Dhamma.




    Sebanyak 40 Bhikkhu (biksu) asal Thailand, Malaysia, Singapura, dan Thailand resmi dilepas dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Cipayung, Jakarta Timur, untuk melaksanakan ritual Thudong dalam rangka merayakan Hari Raya Tri Suci Waisak 2568 BE di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (14/5/2024). (CNBC Indonesia/Rindi Salsabila)Foto: CNBC Indonesia/Rindi Salsabila
    Sebanyak 40 Bhikkhu (biksu) asal Thailand, Malaysia, Singapura, dan Thailand resmi dilepas dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Cipayung, Jakarta Timur, untuk melaksanakan ritual Thudong dalam rangka merayakan Hari Raya Tri Suci Waisak 2568 BE di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (14/5/2024). (CNBC Indonesia/Rindi Salsabila)

    Dalam hal melatih kesabaran, Bhante Dhamma mengambil contoh saat para Bhikkhu berjalan melewati panas dari terik matahari dan dingin dari hujan. Meskipun merasakan sakit atau lelah, para Bhikkhu melatih diri dengan melihat sesuatu dari perspektif yang benar-benar muncul di dalam diri.

    “Semua capeknya itu dilihat dari dalam, bukan dari luar. Jadi panas atau dingin tidak memengaruhi kualitas batin dari para Bhante,” ujarnya.

    Sementara itu, melatih keikhlasan terbagi menjadi empat kelompok bagi para Bhikkhu, yakni terkait pakaian, makanan, tempat tinggal, dan bersikap.

    Dalam hal pakaian, ada Bhikkhu yang bertekad untuk hanya menggunakan satu set pakaian atau kurang lebih tiga set pakaian dalam seumur hidup. Lalu, ada pula Bhikkhu yang bertekad untuk cukup makan sehari sekali dan dilaksanakan seumur hidup.

    “Ada juga tentang tempat tinggal. Ada yang tidur di hutan, berteduh seadanya untuk bermeditasi, tidak ke tempat yang ada bangunan,” jelas salah satu Bhikkhu asal Thailand.

    “Lalu, ada juga yang berniat hanya duduk, tidak berdiri,” sambungnya.

    Bhante Dhamma menjelaskan bahwa saat melaksanakan perjalanan Thudong ada aturan yang menetapkan bahwa para Bhikkhu harus makan sebelum pukul 12.00 siang.

    “Sejauh ini kami enggak ada pantangan, cuma memang ada beberapa peraturan yang tetap kita jalankan. Misalnya, makan di bawah jam 12 siang,” ujar Bhante Dhamma.

    “Kemudian, mungkin sama dengan yang Muslim, ya. Kalau kami para Bhikkhu itu tidak boleh bersentuhan dengan perempuan,” lanjutnya.

    Selain itu, tidak ada aturan khusus bagi para Bhikkhu untuk melakukan perjalanan dengan alas kaki, seperti sandal. Bhante Dhamma mengungkapkan, pilihan untuk menggunakan alas kaki diberikan kepada masing-masing Bhikkhu.

    (hsy/hsy)


    Selalu Semangat Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.