Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Studi Ungkap Alasan Pengendara Fortuner Sering Bersikap Arogan
    Inspiring You

    Studi Ungkap Alasan Pengendara Fortuner Sering Bersikap Arogan

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman19 April 2024Updated:19 April 2024Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Beberapa hari lalu, media sosial tengah diramaikan oleh peristiwa yang melibatkan para pengguna mobil Toyota Fortuner yang arogan dan kerap membuat ulah.

    Baru-baru ini, aksi arogan pengguna Fortuner ditampilkan oleh Pierre WG Abraham yang memalsukan pelat dinas TNI. Pengendara Fortuner yang viral berkat aksi arogannya di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 56 itu kini resmi ditahan polisi.

    Menurut kepolisian, Pierre WG Abraham yang memalsukan pelat 84337-00 milik Marsda TNI (Purn) Asep Adang Supriyadi itu terlibat dalam adu argumen hingga mengaku adik jenderal TNI. Padahal, ia tidak memiliki hubungan keluarga apapun dengan Asep dan bukan merupakan anggota TNI.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Saat ini, Polda Metro Jaya menetapkan Pierre WG Abraham sebagai tersangka memalsukan pelat dinas TNI dan terancam dijatuhi hukuman enam tahun penjara.

    Dua peristiwa tersebut pun semakin mendukung stigma masyarakat Indonesia yang menyebutkan bahwa pemilik mobil Pajero dan Fortuner merupakan sosok yang arogan dan sering melanggar aturan.

    Sebelumnya, sudah ada banyak pelanggaran kasus lalu lintas yang melibatkan pengendara mobil kategori Sports Utility Vehicle (SUV).

    Ternyata, tidak hanya di Indonesia. Permasalahan dan stigma ini juga terjadi di Amerika Serikat (AS). Bahkan, ada riset ilmiah yang meneliti fenomena ini.

    Pada 2012 lalu, tim peneliti dari University of California memublikasikan riset berjudul “Higher Social Class Predicts Increased Unethical Behavior”. Salah satu eksperimennya adalah melihat etika pengendara mobil mewah dan non-mewah saat berkendara. Hasilnya sama-sama menunjukkan kalau pengendara mobil mewah cenderung ugal-ugalan, berani memotong jalur pengendara lain, bahkan melanggar hukum.

    Lalu, apa yang mendasari perilaku seperti ini?

    Peneliti gabungan dari University of Illinois dan University of California pada 2012 berhasil menemukan jawabannya. Dalam riset “Social Class, Solipsism, and Contextualism: How the Rich Are Different From the Poor” penyebab orang kaya cenderung punya perilaku buruk karena munculnya sikap egois atau fokus pada dirinya sendiri. Mereka tidak ingin menjalin relasi baik dengan orang yang menurut pandangannya tidak sejalan.

    Penyebab dari permasalahan ini kembali lagi pada besarnya kepemilikan sumber daya, baik uang, harta lain, atau relasi kuasa. Banyaknya sumber daya membuatnya lebih bebas meraih keinginan untuk mendapat status sosial-ekonomi.

    Berkat keistimewaan itu, mereka tidak takut jika tindakannya melewati batasan norma dan etika hukum atau sosial. Sekalipun melanggar, mereka percaya punya kekebalan. Akibatnya, mereka sering merasa dirinya berkuasa.

    Lain ceritanya dengan masyarakat kelas menengah ke bawah. Menurut Antony S. R. Manstead dari Cardiff University dalam “The Psychology of Social Class: How Socioeconomic Status Impacts Thought, Feelings, and Behaviour” (2018), masyarakat kelas menengah ke bawah lebih berhati-hati dalam berperilaku di masyarakat karena mereka tidak punya sumber daya besar.

    Mereka sudah kesulitan karena berbagai tekanan ekonomi, lingkungan, dan permasalahan hidup lainnya. Akibatnya masyarakat kelas bawah tidak ingin mencari musuh baru sebagai konsekuensi dari perilaku tidak etis. Alhasil individu kelas bawah cenderung memiliki konsep diri yang saling bergantung.

    Sikap etis yang ditonjolkan dilakukan sebagai upaya membangun kerjasama untuk menciptakan hubungan yang kuat sehingga dapat memberikan keuntungan bagi sesama. Makin rendah kelas sosial, demikian hasil riset tersebut, makin besar pula empatinya.

    Meski demikian, seluruh hasil riset yang dipaparkan tidak berupaya menggeneralisir. Ada banyak orang kaya aktif di kegiatan filantropis. Begitu pula tidak sedikit orang kelas menengah ke bawah yang punya sikap tidak etis.

    (rns/rns)


    Inspirasi Sukses Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.