Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Perjuangan Anak Petugas Kebersihan yang Alami Cerebral Palsy
    Inspiring You

    Perjuangan Anak Petugas Kebersihan yang Alami Cerebral Palsy

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman18 Maret 2024Updated:19 Maret 2024Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Penyakit cerebral palsy adalah kondisi kronis yang terjadi akibat kerusakan otak. Keadaan ini ditandai gangguan pada otot, gerak, dan koordinasi tubuh.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Kondisi inilah yang terjadi pada anak petugas kebersihan bernama Sifa (8). Irwan prasetyo dan istrinya, Sukamti, sehari-hari harus menjadi penopang untuk Sifa di kediamannya di Dusun Brintik, Desa Sidokarto, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

    Sehari-hari, Sifa harus bergantung kepada orangtuanya karena keterbatasannya bergerak. Bahkan untuk makan Sukamti harus menyuntikkan makanan yang telah dihaluskan.

    Hal ini dilakukan karena Sifa tidak mampu mengunyah makanan sehingga semua asupan harus diberikan melalui selang Nasograstic Tube atau Sonde.

    Sang ibu menuturkan pada saat mengandung Sifa sebenarnya kondisinya stabil. Namun menjelang hari kelahiran, kandungan Sukamti sakit.

    Saat ini Sukamti langsung ke rumah sakit namun dokter menyatakan tak ada yang mengkhawatirkan. Namun dokter spesialis lain menyatakan kandungan Sukamti tidak sehat.

    “Kaget dokternya, Aduh rupture uteri katanya itu. Dinding rahim tipis sobek. saya tuh enggak mau lagi ada kejadian seperti ini tapi kok masih kejadian lagi. Terus dokternya menyarankan saat itu juga dicaesar dan dibilangin pahitnyajuga kalau kandungannya diangkat sekalian gitu,” cerita Sukamti kepada tim berbuatbaik.

    Kelahiran Sifa pada Juni 2015 menjadi yang terakhir bagi Sukamti karena saat operasi sesar, rahimnya juga diangkat. Sifa merupakan anak kedua Sukamti, sementara anak pertama Sukamti meninggal dalam kandungan.

    Cobaan Sukamti belum berakhir karena saat lahir Sifa didiganosa mengalami kekurangan oksigen di otaknya. Oleh karena itu, Siga harus menjalani fisioterapi karena ada gangguan tumbuh kembang.

    Sayangnya, tidak semua pengobatan Sifa ditanggung BPJS Kesehatan. Sehingga Irwan harus bekerja keras agar Sifa bisa mendapatkan layanan kesehatan dan obat.

    Sehari-hari Irwan bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan alih daya di RSUP Dr Sardjito dengan gaji UMR. Penghasilan ini dirasa masih belum cukup sehingga sang istri pun turut mencari tambahan dengan bekerja di warung kopi.

    Hal ini mereka lakukan agar Sifa semakin pulih dan bisa bermain serta bersekolah seperti anak-anak lainnya.

    “Ya sangat apa ya mendambakan berharap bisa dipanggil ibu gitu. Tidak muluk-muluk harapan saya. Setidaknya bisa ngomonglah, biar bisa apa ya, kami tahu apa yang Sifa mau,” tuturnya.

    “Saya sebenarnya ingin sekali dipanggil Pak. Seperti, ‘Pak,minta uang untuk jajan’. Saya sebenarnya ingin sekali. Inginseperti anak-anak seperti biasanya. Ya manggil Pak, seperti, Minta uang, Pak,” tambah Irwan.

    Jika kedua orangtuanya bekerja, Nenek Sifa, Parji, yaang mengurus Sifa. Walau sudah berusoa 65 tahun, nenek Sifa masih tetap cekatan merawat Sifa.

    “Saya menguatkan istri. Istri saya menguatkan saya sendiri. Saya bilang, ‘Ya itu semua harus diterima, Bu. Itu rezeki kita.Itu yang akan menolong kita besok,” jelas Irwan.

    Irwan mengatakan belakangan ini Sifa membutuhkan kursi roda sebab kursi yang sekarang ini tidak nyaman buat dirinya. Apalagi badan dan tinggi Sifa sudah semakin membesar.

    Kendati demikian, baik Irwan maupun Sukamti tak pernah patah arang walaupun ada saja kendala dalam membesarkan Sifa.

    “Suami sih alhamdulillah tidak berubah sedikitpun. Alhamdulillah mau menerima kondisi anaknya seperti sekarang ini. Ya pokoknya nggak berpikir yang enggak enggak lah. Alhamdulillah bisa menerima,” ucap Sukamti.

    “Saya tidak akan meninggalkan Sifa atau ibunya. Tidak. Saya tidak tega melihat Sifa seperti itu. Kasihan ibunya Sifa juga. Jadi saya hilangkan pikiran seperti itu. Yang penting saya sehat. Bisa memberlikan popok untuk Sifa, susu untuk Sifa, keperluan Sifa. Saya sudah senang. Yang penting diberi sehat dan rezekinya lancar,” sambung Irwan.

    #sahabat baik, sungguh cinta kedua orangtua menjadi kekuatan bagi anak-anak hidup dan tumbuh. Kisah Sifa menjadi inspirasi untuk terus tegar dan berbagi kepada siapapun yang membutuhkan.

    Kamu bisa menjadi bagian perjuangan Sifa dengan mulai Donasi di berbuatbaik.id. Donasi di platform tepercaya ini, 100% tersalurkan.


    Artikel Selanjutnya


    Berbuatbaik.id Salurkan Bantuan ke Rumah Belajar Merah Putih

    (Sumber: CNBC.com )


    Smart your life True Success
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.