Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Boikot Sukses Bikin Israel Menderita, Ini Nilai Kerugiannya
    Inspiring You

    Boikot Sukses Bikin Israel Menderita, Ini Nilai Kerugiannya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman22 Desember 2023Updated:22 Desember 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, Dexpert.co.id – Memasuki hari ke-76 setelah serangan perdana Hamas ke Israel, serangan Israel ke Palestina semakin meluas dan menjadi-jadi. Menurut data hingga Selasa (19/12/2023), sebanyak 19.453 orang dan 66 jurnalis di Gaza, Palestina tewas.

    Serangan Israel itu pun semakin menyulut amarah masyarakat dunia. Akibatnya, seruan boikot terhadap perusahaan, merek, atau produk yang terafiliasi dengan Israel semakin digaungkan. Hingga saat ini, jumlah perusahaan yang masuk ke dalam daftar boikot semakin banyak.

    Sejumlah perusahaan yang menjadi sasaran boikot pun mulai panik dan takut. Untuk meredam amarah masyarakat dan menghapus status boikot, para perusahaan mulai memberikan klarifikasi. Hal itu dilakukan karena gerakan boikot dilaporkan sudah berdampak terhadap keuangan perusahaan.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Meskipun belum ada laporan terbaru terkait total kerugian yang diderita Israel, laporan Al Jazeera pada 2018 lalu mengungkapkan bahwa gerakan boikot berpotensi menimbulkan kerugian hingga US$11,5 miliar atau sekitar Rp177,91 triliun (asumsi kurs Rp15.471/US$) per tahun bagi Israel.

    Israel pun jelas khawatir terhadap dampak kerugian ini. Dalam beberapa waktu terakhir, misi prioritas diplomatik Israel adalah penanggulangan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS).

    Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah bertindak untuk melarang kelompok-kelompok yang mendukung gerakan boikot. Sebab, ribuan orang di Israel disebut berpotensi kehilangan pekerjaan jika negara mereka diboikot secara penuh oleh internasional.

    Dampak Boikot Terhadap Perekonomian Israel

    Melansir dari The Jerusalem Post, Israel membantah bahwa gerakan boikot dapat merugikan mereka. Justru, boikot disebut akan “menambah penderitaan rakyat Palestina, bukan menguranginya.”

    Organisasi non-profit berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS), Brookings Institution, menyatakan bahwa gerakan BDS tidak akan secara drastis mempengaruhi perekonomian Israel. Sebab, sekitar 40 persen ekspor Israel adalah barang “intermediet” atau produk tersembunyi yang digunakan dalam proses produksi barang di tempat lain, seperti semikonduktor.

    Selain itu, sekitar 50 persen dari ekspor Israel adalah barang “diferensiasi” atau barang yang tidak dapat digantikan, seperti chip komputer khusus.

    Namun, data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa ekspor barang-barang “intermediet” mengalami penurunan tajam dari 2014 hingga 2016 sehingga menimbulkan kerugian sekitar US$6 miliar atau sekitar Rp94,16 triliun.

    Indonesia kurangi impor dari Israel

    Indonesia, meski tak punya hubungan diplomatik dengan Israel, punya hubungan dagang dengan negara tersebut. Sejak perang pecah, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia terhadap barang dari Israel mengalami penurunan sebesar 38,23% secara bulanan pada November 2023 menjadi US$1,56 juta atau setara dengan Rp 24,20 miliar (Rp 15.515/US$1). Kemudian, volume impor juga menurun sebesar 48,73% mtm.

    Berdasarkan data dari BPS, penyumbang terbesar nilai impor yakni perkakas, perangkat potong (HS 82) sebesar US$463 ribu. Serta, mesin-mesin dan pesawat mekanik (HS 84) sebesar US$346 ribu.

    Kemudian, perangkat optik (HS 90) senilai US$245 ribu, mesin peralatan listrik (HS 85) senilai US$241 ribu, dan bahan kimia organik (HS 29) senilai US$90 ribu. Lemak dan minyak hewani/nabati (HS 22) US$34,7 ribu, serat stapel buatan (HS 55) US$19 ribu, bahan kimia anorganik (HS 28) US$13 ribu, benda-benda dari besi dan baja (HS 73) US$3,5 ribu, plastik dan barang dari plastik US$1,7 ribu.



    Artikel Selanjutnya


    Ini Cabang McDonald’s yang Ketar-Ketir dengan Seruan Boikot

    (hsy/hsy)


    Berani sukses Ide Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.